.jpg)
Wayang Revolusi, Seni dan Narasi Perjuangan Kemerdekaan Indonesia
19 Feb 2026
Di antara koleksi wayang tradisional yang tersimpan di Museum Wayang Jakarta, terdapat sebuah wayang kulit kontemporer yang merekam narasi perjuangan bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaannya, yakni Wayang Revolusi.
Wayang Revolusi hadir sebagai media untuk meningkatkan kesadaran persatuan dan kesatuan masyarakat dalam melawan Belanda pada masa terbatasnya akses televisi dan siaran radio.
Museum Wayang menyimpan 6.863 koleksi objek yang mencakup wayang, alat musik, peralatan pembuatan wayang, boneka, topeng, dan lukisan, dengan wayang kulit mendominasi sebanyak 3.670 koleksi.
Koleksi wayang tersebut berasal dari berbagai daerah dan gaya pewayangan Indonesia, seperti Wayang Kulit Purwa, Wayang Kulit Cirebon, Wayang Kulit Gedog, Wayang Kulit Bali Calon Arang, Wayang Kulit Sasak, hingga Wayang Kulit Revolusi.
R.M. Sayid dan Awal Mula Wayang Revolusi
Wayang Revolusi merupakan karya Raden Mas Sayid (1912–1988), seorang dalang dan seniman wayang yang memiliki keterkaitan erat dengan lingkungan Pura Mangkunegaran. Ia dikenal sebagai dalang Wayang Kancil, sebuah bentuk seni yang telah dipelajarinya sejak tahun 1927.
Pada tahun 1943, ia menciptakan satu set Wayang Kancil dengan karakter binatang. Namun, karena bentuk ini tidak menampilkan figur manusia, R.M. Sayid kemudian mengembangkan wayang dengan karakter manusia bergaya naturalistis, yaitu Wayang Sandiwara pada tahun 1944.
Wayang Sandiwara mengangkat cerita-cerita yang berkaitan dengan isu-isu yang berkembang pada masanya, sekaligus menjadi inovasi yang menandai perkembangan wayang di era modern.
Pesan-pesan moral seperti dongeng Isin Ngaku Bapa, serta sarana penyebaran propaganda pada masa pendudukan Jepang dibawakan pada Wayang Sandiwara hingga pada pasca-proklamasi.
Kedekatan wayang dengan masyarakat, khususnya masyarakat Jawa di wilayah pedesaan yang memiliki keterbatasan akses media cetak dan elektronik, menjadikannya medium yang efektif untuk menyampaikan pesan kepada khalayak luas.
Evolusi nama Wayang Perjuangan hingga Wayang Revolusi
Memasuki periode 1945 hingga 1950-an, R.M. Sayid mengembangkan Wayang Sandiwara menjadi bentuk yang secara khusus digunakan untuk menyampaikan narasi sejarah perjuangan bangsa Indonesia, yang kemudian dikenal sebagai Wayang Perjuangan.
R.M. Sayid menambahkan berbagai tokoh baru pada Wayang Perjuangan yang merepresentasikan kondisi politik dan sosial saat itu, seperti serdadu Belanda, tentara Jepang, tentara pejuang Indonesia, serta sejumlah tokoh nasional seperti Soekarno dan Hatta.
Cerita-cerita yang dibawakan dalam Wayang Perjuangan mencakup peristiwa-peristiwa penting kemerdekaan Indonesia, seperti Sumpah Pemuda, Proklamasi 17 Agustus 1945, Perang Surabaya 10 November, Perjanjian Linggarjati, hingga Perjanjian Renville.
Dalam perkembangannya, Wayang Perjuangan kini lebih dikenal dengan sebutan Wayang Revolusi. Istilah Wayang Revolusi pada dasarnya merupakan konstruksi kuratorial yang muncul dalam konteks pameran yang diselenggarakan Wereldmuseum Rotterdam, Belanda, pada tahun 1990.
Pameran tersebut menampilkan pertunjukan wayang multimedia yang menggunakan Wayang Perjuangan dan dimainkan oleh dalang asal Belanda bernama Rien Baartmans (1973-1993).
Jejak Koleksi Wayang Revolusi hingga ke Museum Wayang
Wayang Perjuangan dan Wayang Kancil ciptaan R.M. Sayid pada awalnya disimpan bersama dalam satu kotak dengan jumlah sekitar 200 wayang.
Kemudian tahun 1965, sekitar 165 wayang dari set Wayang Perjuangan diakuisisi oleh Wereldmuseum Rotterdam melalui pembelian dari seorang dokter keturunan Tionghoa-Indonesia bernama Tjan Tong Jang yang berdomisili di Semarang, sebelum pindah ke Belanda.
Koleksi Wayang Revolusi yang masih berada di Wereldmuseum Rotterdam kemudian diserahkan kepada Museum Wayang Jakarta melalui Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam rangka untuk merayakan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia yang ke-60 tahun.
Penyerahan ini menjadi bagian dari kerja sama bilateral antara Pemerintah Kota Rotterdam dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, yang diresmikan melalui Kesepakatan Pinjaman Jangka Panjang pada 23 April 2005.
Meskipun berstatus pinjaman jangka panjang, koleksi Wayang Revolusi ini menjadi bukti penting kreativitas seniman Indonesia dalam mengabadikan narasi perjuangan kemerdekaan melalui medium wayang.
Narasi Revolusi Lainnya dari Wayang Suluh
Pasca Proklamasi Kemerdekaan, wayang tetap dimanfaatkan sebagai medium penyebaran informasi dan pembangkit semangat revolusi. Selain Wayang Perjuangan, lahirlah Wayang Suluh sebagai bentuk ekspresi revolusi lainnya.
Wayang Suluh merupakan bentuk wayang yang ditampilkan setelah melalui sebuah sebuah sayembara dan dikembangkan oleh para pemuda yang tergabung dalam Seniman Indonesia Muda (SIM) di Madiun pada 10 Maret 1947.
Wayang ini menggunakan Wayang Wahana ciptaan R.M. Sutarto Harjawahana dan berfungsi sebagai salah satu alat komunikasi pemerintah.
Kata "Suluh" merujuk pada penerangan, yang mencerminkan tujuan wayang ini sebagai medium pencerahan bagi rakyat.
Sama dengan Wayang Perjuangan, Wayang Suluh juga menampilkan tokoh-tokoh kenegaraan seperti Soekarno, Moh. Hatta, serta tokoh-tokoh yang ada dalam kehidupan masyarakat sehari-hari seperti petani dan pedagang.
Informasi mengenai koleksi Museum Wayang lainnya dapat diakses melalui Jakarta Digital Collections (JDC) yang akan diluncurkan pada pertengahan tahun 2026.
Proses katalogisasi dan digitalisasi koleksi ini didukung oleh U.S. Ambassadors Fund for Cultural Preservation (AFCP), yang berkomitmen pada pelestarian bangunan bersejarah, situs budaya, serta koleksi museum di berbagai negara mitra.