top of page

Wastraprema dan Awal Mula Koleksi Museum Tekstil, Kain Gringsing Wayang Kebo dari Raja Gianyar, Bali

26 Jan 2026

Jika ingin menelusuri kekayaan kain tradisi Indonesia, Museum Tekstil Jakarta menjadi salah satu ruang penting untuk memahami keragaman wastra Nusantara.

Museum ini menyimpan berbagai koleksi tekstil yang merepresentasikan perjalanan sejarah, estetika, serta pengetahuan mengenai kain tradisional Indonesia.

Museum Tekstil Jakarta diresmikan oleh Ibu Tien Soeharto pada 28 Juni 1976. Pendirian museum ini merupakan hasil inisiatif bersama Ir. Safioen, Direktur Jenderal Tekstil Kementerian Perindustrian, dan Gubernur DKI Jakarta saat itu, Ali Sadikin.

Berdasarkan catatan inventaris tahun 2022, Museum Tekstil Jakarta menyimpan kurang lebih 3.000 objek koleksi yang terbagi ke dalam beberapa kategori, antara lain tekstil batik, kain tenun, tekstil campuran, alat tekstil, serta tekstil kontemporer.

Berdasarkan catatan inventaris tahun 2022, Museum Tekstil Jakarta menyimpan kurang lebih 3.000 objek koleksi yang terbagi ke dalam beberapa kategori, antara lain tekstil batik, kain tenun, tekstil campuran, alat tekstil, serta tekstil kontemporer.

Salah satu koleksi Museum Tekstil tersebut adalah Kain Motif Gringsing Wayang Kebo. Kain ini masuk ke dalam koleksi museum melalui sumbangan Himpunan Wastraprema (HWP), sebuah komunitas yang memiliki peran besar dalam pembentukan koleksi awal Museum Tekstil Jakarta.

Lantas, siapa Himpunan Wastraprema (HWP) dan bagaimana hubungannya dengan Museum Tekstil?

Sumbangan Himpunan WastraPrema (HWP)

Himpunan Wastraprema merupakan komunitas pecinta kain tradisi Indonesia yang berdiri pada tahun 1976, bersamaan dengan diresmikannya Museum Tekstil.

Komunitas ini dibentuk oleh tokoh-tokoh budaya, kerabat keraton, serta para kolektor tekstil yang memiliki kepedulian terhadap pelestarian wastra Nusantara.

HWP dikenal sebagai salah satu pelopor penyumbang kain-kain tradisional yang kini tersimpan di Museum Tekstil.

Sekitar 500 helai kain yang menjadi koleksi awal Museum Tekstil Jakarta pada tahun 1976 berasal dari para anggota komunitas ini.

Sebelum Museum Tekstil dan HWP berdiri, muncul kekhawatiran terhadap menurunnya penggunaan, pemahaman, dan produksi tekstil tradisional Indonesia akibat menguatnya dominasi industri tekstil modern. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran akan hilangnya ragam wastra tradisional dari berbagai daerah di Indonesia.

Kekhawatiran inilah yang mendorong terbentuknya Himpunan Wastraprema, yang berupaya menyelamatkan, mengoleksi, meneliti, serta mempopulerkan kembali wastra Nusantara.

Gagasan pendirian Wastraprema berawal dari kecintaan para anggotanya terhadap kain-kain tradisional buatan perajin Nusantara. Inisiatif ini digagas oleh Ibu Lasmidjah Hardi, mantan Deputi Menteri/Kepala Departemen Kebudayaan (1956), yang dikenal sebagai pemerhati dan pecinta wastra Indonesia.

Seiring waktu, kegiatan komunitas berkembang dari sekadar mengoleksi kain menjadi upaya menelusuri asal-usul, fungsi, serta makna di balik setiap kain. Para anggota saling berbagi pengetahuan dan pengalaman guna memperkaya pemahaman terhadap koleksi yang mereka miliki.

Atas inisiatif Bapak Ali Sadikin, Gubernur Jakarta pada masa itu, muncul gagasan pendirian Museum Tekstil Jakarta.

Gagasan ini lahir setelah ia melakukan perjalanan ke luar negeri dan merasa prihatin karena banyak kain tradisional Indonesia justru tersimpan dan dipamerkan di berbagai institusi luar negeri, sementara di Jakarta belum tersedia ruang khusus untuk menghimpun dan merawat kekayaan tersebut.

Untuk mewujudkan pendirian Museum Tekstil, Ali Sadikin kemudian meminta Himpunan Wastraprema (HWP) untuk membantu menghimpun koleksi awal museum.

Sejak sekitar tahun 1973, anggota HWP mulai menghimpun koleksi kain yang mereka miliki untuk dilakukan inventarisasi secara kolektif.

Proses ini menjadi langkah awal dalam pembentukan koleksi museum. Hasil penghimpunan tersebut kemudian diserahkan kepada Museum Tekstil pada tahun 1976 sebagai koleksi awal saat museum pertama kali dibuka.

Nama Wastraprema berasal dari bahasa Sanskerta, dengan wastra yang berarti kain (tradisi) dan prema yang berarti cinta. Sesuai dengan maknanya, Wastraprema hadir sebagai komunitas yang memiliki misi untuk mengangkat citra, pemahaman, serta apresiasi terhadap seni budaya kain tradisional Indonesia.

Ida Anak Agung Gde Agung dan Kain Gringsing Wayang Kebo

Salah satu anggota HWP yang turut menyumbangkan koleksinya ke Museum Tekstil adalah Ida Anak Agung Gde Agung, salah satu tokoh pendiri HWP bersama tokoh masyarakat Jakarta lainnya, seperti Lasmidjah Hardi dan Gusti Putri Mangkunegoro.

Ia menyumbangkan koleksi pribadi keluarganya berupa kain bermotif Gringsing Wayang Kebo, yang kini menjadi bagian dari koleksi Museum Tekstil Jakarta.

Ida Anak Agung Gde Agung (24 Juli 1921–22 April 1999) merupakan seorang ahli sejarah dan tokoh politik Indonesia. Ia pernah menjabat sebagai diplomat serta Menteri Luar Negeri Republik Indonesia. Selain kiprahnya di tingkat nasional, ia juga pernah menjadi Raja Gianyar di Bali, menggantikan ayahnya, Anak Agung Ngurah Agung.

Bersama anggota Himpunan Wastraprema lainnya, Ida Anak Agung Gde Agung turut menyumbangkan koleksinya kepada Museum Tekstil pada tahun 1976 sebagai bagian dari koleksi awal museum.

Cerita di balik Kain Gringsing Wayang Kebo

Kain Gringsing Wayang Kebo merupakan salah satu benda upacara yang berkaitan dengan daur hidup dan dipercaya memiliki kekuatan untuk menolak bala.

Kain ini berperan sebagai benda pusaka yang berada dalam lingkungan istana Puri Agung Gianyar.

Kain Gringsing yang berasal dari Desa Tenganan, Bali ini dimiliki dan disimpan oleh keluarga Raja Gianyar, yang menunjukkan adanya hubungan spiritual serta pertukaran budaya antar kerajaan di Bali pada masa lalu.

Motif Gringsing Wayang Kebo memiliki tingkat kesakralan tertinggi sekaligus merupakan motif tersulit dalam hierarki kain Gringsing.

Sebagai kain ikat ganda, pembuatannya menuntut presisi tinggi, di mana benang pakan dan lungsi harus bertemu tepat pada titik yang telah ditentukan.

Proses pembuatannya yang memakan waktu bertahun-tahun menjadikan kain ini sebagai mahakarya teknik tenun dunia.

Istilah kebo (besar) dalam penamaan motif Wayang Kebo merujuk pada ukuran figur wayang yang lebih besar dan lengkap dibandingkan motif Gringsing lainnya.

Motif ini menggambarkan fragmen epik Mahabharata dengan proporsi yang kaku namun sarat makna sakral, mengacu pada gaya wayang Kamasan.

Dalam konteks masyarakat Bali, khususnya di Tenganan dan lingkungan kerajaan, kain ini berfungsi lebih dari sekadar pakaian.

Sesuai dengan maknanya, gring berarti sakit dan sing berarti tidak, kain Gringsing digunakan sebagai sarana ritual untuk melindungi pemakainya dari energi negatif dan penyakit.

Motif Wayang Kebo secara khusus digunakan dalam upacara-upacara Manusa Yadnya, seperti potong gigi (metatah), serta Pitra Yadnya (pengabenan) bagi kalangan bangsawan.

Dalam beberapa konteks, kain ini juga digunakan sebagai penutup balai atau pelapis langit-langit ruang suci untuk menciptakan batas antara dunia profan dan sakral.

Kain Gringsing Wayang Kebo ini dapat dijumpai di Museum Tekstil Jakarta.

Kegiatan ini didukung oleh U.S. Ambassadors Fund for Cultural Preservation (AFCP), yang berkomitmen mendukung pelestarian bangunan bersejarah, situs arkeologi dan budaya, serta objek dan koleksi museum, termasuk berbagai bentuk ekspresi budaya tradisional di negara-negara mitra.

bottom of page