top of page

Cerita di Balik Miniatur Oplet Museum Sejarah Jakarta, Ikon Transportasi Jakarta Tempo Dulu

12 Mar 2026

Museum Sejarah Jakarta (MSJ) adalah salah satu museum yang berlokasi di kawasan Kota Tua, Jakarta. Museum ini menyimpan berbagai koleksi yang berkaitan dengan sejarah perkembangan kota Jakarta, mulai dari masa prasejarah hingga era kolonial.

Sebagian besar koleksi MSJ berasal dari Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (BGKW) atau Batavian Academy of Arts and Sciences yang didirikan di Jakarta pada tahun 1778 oleh J.C.M. Radermacher.

Saat ini, MSJ mengelola sekitar 6.382 objek koleksi yang terdiri atas furnitur, senjata, keramik, artefak arkeologi, bahan etnografi, serta berbagai miniatur dengan kondisi yang bervariasi. Untuk kategori miniatur, MSJ menyimpan beragam objek seperti, Miniatur Rumah Tradisional, Miniatur Keranjang Pedagang Asongan, hingga miniatur transportasi seperti kereta uap dan oplet.

Oplet merupakan salah satu moda transportasi darat yang populer di Jakarta pada era 1960 sampai 1970-an. Kendaraan roda empat ini memiliki dua kursi panjang sejajar yang dapat menampung beberapa penumpang. Pada masa itu, oplet menjadi pilihan transportasi umum masyarakat Jakarta ketika layanan bus masih terbatas.

Sejarah Transportasi Oplet

Pertumbuhan ekonomi dan industri pada awal abad ke-20 mendorong banyak masyarakat datang ke Jakarta untuk mencari pekerjaan. Salah satu profesi yang muncul pada masa itu adalah pengemudi becak, yang diperkenalkan sebagai transportasi Tiongkok pada akhir dekade 1930-an.

Setelah Indonesia merdeka, tingkat urbanisasi di Jakarta meningkat pesat. Kondisi ini menyebabkan jumlah becak di Jakarta meningkat drastis pada tahun 1948. Bersamaan dengan itu, muncul pula moda transportasi lain, yaitu oplet.

Kendaraan ini dibuat dengan memodifikasi sasis mobil sedan buatan Eropa dengan menambahkan kabin kayu di bagian belakang pengemudi untuk menampung penumpang. Kendaraan tersebut kemudian dikenal sebagai autolette yang masyarakat Jakarta lafalkan menjadi oplet.

Pendapat lain juga menyebutkan bahwa istilah oplet telah digunakan sejak tahun 1938, ketika pabrik Opel di Tanjung Priok, Hindia Belanda, memproduksi mobil Opel Olympia seri CL dengan model cabriolet.

Kabin mobil tersebut kemudian diperpanjang dan dimanfaatkan sebagai kendaraan shared taxi atau angkutan bersama, sehingga muncul istilah “Opel Cabriolet” yang kemudian disingkat menjadi oplet.

Armada oplet yang digunakan pada masa itu umumnya berasal dari mobil-mobil keluaran tahun 1940-an hingga 1960-an. Jenis kendaraan yang digunakan pun cukup beragam. Berbagai merek mobil seperti Fiat, Ford, Morris, Chevrolet, hingga Peugeot pernah dimodifikasi dan digunakan sebagai oplet.

Tidak jarang mobil sedan empat pintu dipotong dan dimodifikasi dengan menambahkan bodi belakang dari kayu agar dapat menampung lebih banyak penumpang. Selain sedan, kendaraan bekas perang seperti mobil jip Willys MB juga pernah dimanfaatkan sebagai armada oplet.

Para pengusaha oplet pada masa itu juga cukup banyak menggunakan mobil buatan Austin, sehingga masyarakat kerap menyebut oplet dengan nama lain, yaitu “Ostin”, yang berasal dari pelafalan nama merek mobil tersebut.

Penghapusan transportasi trem pada tahun 1950-an turut meningkatkan jumlah oplet sebagai moda transportasi alternatif masyarakat Jakarta. Beberapa jalur resminya antara lain Tanjung Priok–Cilincing, Kebayoran Lama–Ciputat, Grogol–Kota, serta Cililitan–Cisalak.

Oplet berkembang pesat pada era 1950-an dan sempat menjadi tulang punggung transportasi di ibu kota. Namun, seiring waktu popularitasnya mulai tergantikan oleh moda transportasi yang lebih modern seperti mikrolet dan KWK.

Kemudian pada tahun 1990-an, oplet hanya dapat dijumpai di beberapa wilayah Jakarta Timur sebelum akhirnya benar-benar tidak lagi beroperasi.

Oplet dalam Serial Legendaris Si Doel Anak Sekolahan

Bagi masyarakat Indonesia, oplet juga dikenal melalui serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. Serial ini mengisahkan kehidupan Doel, seorang pemuda Betawi yang tinggal di lingkungan kampung di Jakarta.

Salah satu elemen yang paling melekat dalam serial tersebut adalah oplet berwarna biru yang digunakan keluarga Doel sebagai sarana mencari nafkah. Kendaraan tersebut sebenarnya merupakan mobil Morris Minor yang diproduksi sejak tahun 1940-an.

Dalam cerita, oplet tersebut merupakan warisan Babe (Benyamin Suaeb) kepada Doel (Rano Karno). Kendaraan ini kerap dikendarai oleh Mandra dan menjadi bagian dari berbagai adegan ikonik dalam sinetron tersebut.

Sebelum tampil seperti kendaraan yang layak digunakan, oplet biru tersebut diketahui pernah dijadikan kandang ayam oleh pemilik sebelumnya. Sebagai mobil klasik yang telah berusia puluhan tahun, kendaraan ini juga beberapa kali mengalami kerusakan mesin selama masa penggunaannya.

Saat ini, oplet biru tersebut menjadi koleksi pribadi Rano Karno, pemeran Doel sekaligus Wakil Gubernur Jakarta. Kendaraan ini menyimpan banyak kenangan sehingga tidak pernah dijual, meskipun pernah ditawar hingga mencapai Rp1 miliar.

Bagi Rano Karno, oplet tersebut juga merupakan wujud dari imajinasi masa kecilnya, ketika ia sering melihat kendaraan tersebut berseliweran di jalan saat berjalan kaki menuju sekolah.

Karena oplet kini sudah tidak lagi beroperasi di Jakarta, keberadaannya menjadi semakin jarang ditemui. Oleh karena itu, miniatur oplet yang tersimpan di Museum Sejarah Jakarta dapat menjadi salah satu cara untuk melihat kembali gambaran transportasi Jakarta tempo dulu.

Miniatur oplet dengan kode inventaris MSJ/KLN/MNT/0856 ini telah menjadi koleksi Museum Sejarah Jakarta sejak tahun 1968.

Akses Koleksi Melalui Jakarta Digital Collections

Cerita koleksi Museum Sejarah Jakarta lainnya dapat diakses melalui portal Jakarta Digital Collections (JDC) yang direncanakan akan diluncurkan pada pertengahan tahun 2026.

JDC merupakan inisiatif SEAMS melalui program #KoleksiKita yang berkolaborasi dengan Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta serta 12 museum di bawah pengelolaannya. Program ini bertujuan membuka akses publik terhadap koleksi museum melalui proses digitalisasi dan katalogisasi.

Kegiatan ini juga didukung oleh U.S. Ambassadors Fund for Cultural Preservation (AFCP), yang berkomitmen mendukung pelestarian bangunan bersejarah, situs arkeologi dan budaya, objek dan koleksi museum, serta berbagai ekspresi budaya tradisional di berbagai negara.

bottom of page