
Cerita di balik Nisan Jonatan Michielsz: Saudagar Kaya, dari Kaum Mardjikers
19 Des 2025
Jonatan Michielsz dikenal sebagai salah satu kaum Mardjikers terkaya di Batavia pada abad ke-18. Sebagian besar kekayaannya berasal dari produksi sarang burung walet dari tanah dan perkebunannya di kawasan Citeureup, Bogor, karena banyak diminati komunitas Tionghoa sebagai hidangan utama.
Bisnis inilah yang mengangkat posisi ekonomi keluarga Michiels. Karena itu, burung walet kemudian diabadikan sebagai lambang heraldik pada nisannya, sebagai simbol penting dalam sejarah keluarga mereka.
Namun, pemahat nisan Jonatan Michielsz di Museum Prasasti tampaknya melakukan kekeliruan dalam menggambarkan burung walet. Tidak semua jenis walet membuat sarang dari air liurnya, sementara burung yang dipahat tampak membawa ranting untuk membuat sarang (Heuken, 2000).
Untuk menelusuri kembali kisah di balik nisan tersebut, tim SEAMS melalui #KoleksiKita melakukan wawancara dengan Arthur James Michielsz, keturunan ke-10 keluarga Michiels, di Kampung Tugu, Jakarta Utara. Wawancara ini menjadi sumber utama (provenans) dalam mengkaji ulang asal-usul nisan yang ternyata berhubungan dengan sejarah bisnis keluarga Michielsz.
Asal-usul Kaum Mardjikers
Sejarah kaum Mardjikers tidak dapat dipisahkan dari runtuhnya kekuasaan Portugis di Malaka pada abad ke-17. Setelah VOC menaklukkan benteng-benteng Portugis, sebagian tawanan Portugis dibebaskan. Status “orang bebas” inilah yang kemudian dikenal dengan sebutan Mardijkers, atau turunan dari kata “merdeka”.
Orang-orang Portugis yang memiliki status ekonomi lebih tinggi diizinkan tinggal di dalam benteng, sementara mereka yang berasal dari kelompok miskin atau dibawa sebagai budak, ditempatkan di luar benteng kota.
Orang-orang Belanda menyebut kelompok ini sebagai Portugis hitam, yang diberikan kebebasan dengan syarat berpindah dari agama asal mereka ke Protestan Belanda. Istilah Mardijkers juga bisa diartikan "orang-orang yang telah dibebaskan".
Pada 1695, kaum Mardijkers yang sudah memeluk agama baru membangun sebuah gereja di luar benteng kota Batavia, yang dikenal sebagai Portugeesche Buitenkerk atau Gereja Portugis Luar Kota, kini dikenal sebagai Gereja Sion.
Asal-Usul Jonatan Michielsz dan Kaum Mardjikers
Museum Prasasti menyimpan banyak koleksi nisan bersejarah dari masa kolonial VOC, termasuk nisan milik Jonatan Michielsz, seorang Mardijkers pemilik lahan di wilayah Citeureup pada abad 18. Selain dikenal sebagai salah satu saudagar kaya Batavia pada abad ke-18, ia juga merupakan pemimpin kaum Mardjikers.
Jonatan Michiels, salah satu tokoh dari keluarga kaya komunitas Mardjikers, merupakan keturunan Titus van Bengala (w. 1728), yang mengambil nama baptis Titus Michielsz setelah berpindah agama pada 1674 dan menikah dengan seorang perempuan India bernama Christian Martha Pieters (n.d.) (Taylor, 2009). Jonatan sendiri adalah ayah dari Augustin Michielsz, yang dikenal sebagai kapiten terakhir bagi kaum Mardijker di generasi berikutnya. salah satu figur Mardjikers generasi berikutnya.
Hal ini juga ditegaskan oleh Arthur Michielsz:
“Kekayaan Jonatan Michielsz itu dimulai ketika ia membeli sarang burung walet. Ketika ia mengelolanya dengan baik, bisnis itu menjadi sumber penghasilan yang luar biasa. Karena itulah burung walet dijadikan mark pada nisannya,” ujar Arthur Michielsz.
Nisan Jonatan Michielsz, sebelum dipindahkan dan disimpan di Museum Prasasti, awalnya berada di halaman Gereja Portugis Luar Kota. Namun, pihak keluarganya kemudian memindahkan nisan tersebut ke pemakaman di Tanah Abang, yang kini menjadi Museum Prasasti (De Haan, 1922, Vol. 3).
Kampung Tugu dan Warisannya yang Masih Hidup
Meskipun komunitas Mardjikers tidak lagi hadir sebagai kelompok sosial yang utuh, warisan mereka masih dapat dilihat di Kampung Tugu, Jakarta Utara, salah satunya melalui musik keroncong yang menjadi warisan budaya musik Indonesia yang paling dikenal.
Hingga kini, hanya beberapa keluarga keturunan langsung Mardjikers yang masih tinggal di Kampung Tugu (Heuken, 2000). Selain bermusik keroncong, Kampung Tugu kini menjadi tempat museum mini yang banyak menyimpan beberapa koleksi antik, serta foto leluhur keluarga Michiels.
Transformasi Data Koleksi melalui Jakarta Digital Collection
Data koleksi ini nantinya dapat diakses melalui portal Jakarta Digital Collections (JDC) yang akan diluncurkan pada tahun 2026. JDC merupakan inisiatif SEAMS melalui #KoleksiKita, berkolaborasi dengan Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta serta 12 museum dan 1 galeri di bawah pengelolaannya, untuk membuka akses publik terhadap koleksi museum melalui digitalisasi dan katalogisasi.
Kegiatan ini didukung oleh U.S. Ambassadors Fund for Cultural Preservation (AFCP), yang berkomitmen mendukung pelestarian bangunan bersejarah, situs arkeologi dan budaya, objek serta koleksi museum, hingga ekspresi tradisional seperti bahasa dan musik di negara-negara peserta.