.png)
Memperkuat Riset Konteks Objek Museum Sejarah Jakarta & Bahari bersama Kampung Tugu
15 Apr 2026
Rabu, 15 April 2026, Koleksi Kita melalui SEAMS menyelenggarakan sesi konsultasi konteks bersama nelayan Kampung Tugu untuk memperkuat riset dan katalogisasi objek alat penangkap ikan yang tersimpan di Museum Bahari & Museum Sejarah Jakarta.
Nelayan Kampung Tugu merujuk pada komunitas nelayan yang berasal dari kawasan bersejarah di Jakarta Utara, tepatnya di wilayah Tugu, Cilincing.
Wawancara ini menghadirkan Arthur James Michiels, pengelola living museum Roemah Toegoe yang masih menyimpan berbagai koleksi alat penangkap ikan koleksi di Museum Sejarah Jakarta dan Museum Bahari, serta Gerrard Stefanus Sepang, salah satu nelayan Kampung Tugu yang masih aktif melakukan penangkapan ikan hingga saat ini, sekaligus kerabat dari Arthur.
Kampung Tugu dipilih sebagai lokasi konsultasi karena merupakan daerah asal dari sebagian koleksi alat penangkap ikan yang kini tersimpan di Museum Sejarah Jakarta & Bahari.
Melalui sesi ini, tim SEAMS berupaya memperdalam informasi konteks penggunaan alat-alat penangkap ikan yang dihibahkan oleh masyarakat Kampung Tugu.
Riset ini juga bertujuan memahami praktik penggunaan alat tangkap oleh masyarakat, khususnya di Kampung Tugu, yang berkaitan dengan koleksi di Museum Sejarah Jakarta dan Museum Bahari.
Nelayan Kampung Tugu diketahui masih menggunakan sejumlah alat tangkap yang serupa dengan koleksi museum, seperti kepis, jala, bubu, dan ancok.
Dalam sesi ini, tim SEAMS juga membawa dokumentasi foto hasil digitasi untuk dikonfirmasi langsung kepada narasumber. Beberapa objek yang didiskusikan meliputi sero, bagan, kepis, tombak, bubu, dan serokan.
Diskusi dibuka oleh Arthur Michiels yang menjelaskan sekaligus memperlihatkan koleksi alat penangkap ikan seperti bagan, jaring, dan kepis yang tersimpan di Rumah Toegoe.
Dari hasil konsultasi, diketahui bahwa penggunaan alat tangkap oleh masyarakat Kampung Tugu umumnya bersifat subsisten, yaitu untuk kebutuhan pribadi, bukan untuk skala perdagangan.
Aktivitas menangkap ikan biasanya dilakukan pada siang hingga sore hari, mengingat kegiatan ini bukan mata pencaharian utama.
Masyarakat juga memiliki pengetahuan lokal dalam membaca musim. Misalnya, saat pohon dadap berbunga, hal ini menandakan musim kepiting bertelur, di mana kepiting cenderung lebih gemuk dan memiliki telur yang banyak.
Wawancara kemudian dilanjutkan dengan Gerrard Stefanus Sepang yang menjelaskan praktik penangkapan ikan saat ini. Ia menyebutkan bahwa alat yang digunakannya kini lebih banyak berupa jaring atau waring, sementara beberapa alat tradisional sudah tidak lagi digunakan.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa sebagian nelayan masih menggunakan alat seperti kepis. Ia juga menjelaskan bahwa jala merupakan alat yang fleksibel karena dapat digunakan baik di empang maupun di laut, serta memiliki jangkauan tangkapan yang lebih luas.
Saat ini, tim katalogisasi SEAMS melalui Koleksi Kita tengah mengumpulkan dan mengolah hasil riset terkait objek-objek koleksi Museum Bahari dan Museum Sejarah Jakarta, khususnya yang berkaitan dengan alat penangkap ikan.
Publik dapat menyimak lebih lanjut cerita di balik koleksi Museum Bahari dan Museum Sejarah Jakarta melalui platform Jakarta Digital Colle is ctions (JDC) yang direncanakan akan diluncurkan pada pertengahan 2026.
Kegiatan ini didukung oleh U.S. Ambassadors Fund for Cultural Preservation, yang berkomitmen mendukung pelestarian bangunan bersejarah, situs arkeologi dan budaya, serta objek dan koleksi museum, termasuk berbagai bentuk ekspresi budaya tradisional di negara-negara mitra.