
Memperkuat Riset dan Katalogisasi Objek Museum Tekstil melalui Konsultasi bersama Tracing Patterns Foundation
7 Jan 2026
Rabu, 7 Januari 2025, perwakilan Tim SEAMS melalui Koleksi Kita melakukan sesi konsultasi daring bersama Tracing Patterns Foundation (TPF) untuk memperkuat riset dan katalogisasi objek Museum Tekstil.
Tracing Patterns Foundation merupakan komunitas internasional berbasis di California, Amerika Serikat, yang berkontribusi dalam pengembangan penelitian tekstil tradisional.
Konsultasi ini dihadiri oleh Sandra Sarjono, salah satu pendiri Tracing Patterns Foundation, serta Kristal Hale, konservator Tracing Patterns Foundations sekaligus LACMA (Los Angeles County Museum of Art).
Melalui sesi ini, tim SEAMS memperoleh wawasan dan masukan mengenai praktik pengelolaan serta pendokumentasian koleksi tekstil berdasarkan pengalaman para narasumber dalam konteks museum dan penelitian.
Sandra Sarjono, menjelaskan pentingnya pembedaan nilai (value) yang diangkat dalam objek-objek museum yang dikelola melalui Koleksi Kita.
Perbedaan ini mencakup perspektif museum dan perspektif akses publik. Menurutnya, publik membutuhkan informasi yang bersifat lebih umum dan komunikatif, sementara museum memerlukan data yang lebih lengkap dan mendalam terkait seluruh aspek objek yang diteliti.
Ia juga menekankan pentingnya penambahan pengetahuan kontekstual yang lebih kaya, seperti referensi buku dan sumber informasi pendukung lainnya, ke dalam bagian provenans atau narasi di balik objek koleksi.
Sementara itu, Kristal Hale turut memberikan pandangannya mengenai pentingnya konsistensi data, khususnya pada aspek ejaan, sebelum informasi koleksi dipublikasikan kepada publik.
Berdasarkan pengalamannya sebagai konservator di LACMA, ia menjelaskan alur kerja katalogisasi yang mencakup proses konservasi hingga penulisan laporan (writing report).
Kristal juga menyoroti pentingnya pengelolaan basis data (database), termasuk kapasitas penyimpanan gambar. Menurutnya, objek-objek yang mengalami kerusakan perlu didokumentasikan secara menyeluruh sebagai bagian dari proses penelitian, termasuk pencatatan bagian-bagian yang rusak.
Ia sependapat dengan paparan Bu Sandra mengenai perbedaan perspektif informasi, yang ia sebut sebagai purpose of treatment, yakni perbedaan narasi yang lebih komunikatif bagi publik agar informasi koleksi terasa lebih menarik dan tidak membosankan.
Saat ini, tim katalogisasi SEAMS melalui Koleksi Kita tengah melakukan riset dan katalogisasi terhadap 74 objek koleksi Museum Tekstil, yang sebagian besar berupa kain batik dan tenun.
Proses ini membutuhkan pendekatan khusus, mengingat keragaman motif, teknik, serta latar budaya yang melekat pada masing-masing objek.
Sebanyak 74 objek koleksi Museum Tekstil tersebut memiliki dua nilai signifikansi utama, yaitu nilai historis dan nilai donor. Koleksi ini menampilkan beragam ciri motif tradisi Indonesia, di antaranya motif pedalaman, pesisir, tenun Sumatra, motif Sawunggaling, serta motif-motif lainnya.
Dalam sesi konsultasi tersebut, tim SEAMS bersama Tracing Patterns Foundation juga mendiskusikan salah satu objek koleksi Museum Tekstil, yakni kain batik sumbangan Ibu Lasmidjah Hardi pada Mei 1976.
Meski menampilkan motif batik nitik yang kerap dikaitkan dengan motif daerah Yogyakarta, hasil diskusi menunjukkan bahwa berdasarkan gaya visualnya, kain tersebut justru berasal dari Sumatra.
Temuan ini kemudian diperkuat melalui konsultasi lanjutan dengan Benny Gratha, seorang kurator dan pakar ahli tekstil.
Simak cerita di balik koleksi Museum Tekstil lainnya melalui Jakarta Digital Collections (JDC) yang direncanakan akan diluncurkan pada pertengahan 2026.
Kegiatan ini didukung oleh U.S. Ambassadors Fund for Cultural Preservation (AFCP), yang berkomitmen mendukung pelestarian bangunan bersejarah, situs arkeologi dan budaya, serta objek dan koleksi museum, termasuk berbagai bentuk ekspresi budaya tradisional di negara-negara mitra.