top of page

Menguatkan Data Koleksi Museum melalui Workshop Katalogisasi Museum Sejarah Jakarta & Museum Seni Rupa & Keramik

13 Feb 2026

#KoleksiKita bersama Dinas Kebudayaan DKI Jakarta melalui program Jakarta Digital Collections (JDC) telah menyelenggarakan workshop katalogisasi koleksi di Museum Kesejarahan dan Museum Seni Rupa & Keramik yang berlangsung pada 23 Januari 2026, dan 13 Februari 2026.

Sebagai bagian dari upaya memperkuat kapasitas museum dalam pendokumentasian dan pelestarian koleksi, workshop ini menjadi fondasi bagi museum untuk dapat mengisi katalog Jakarta Digital Collections (JDC) secara akurat dan sistematis.

Workshop ini diikuti oleh sepuluh peserta dari masing-masing museum dengan waktu pelaksanaan yang berbeda, menyesuaikan karakter dan jenis koleksi yang dimiliki.

Museum Kesejarahan (MSJ) menyimpan sejumlah koleksi terkait sejarah Kota Jakarta , sementara Museum Seni Rupa & Keramik (MSRK) menyimpan sejumlah koleksi seni rupa dan keramik.

Selama sesi workshop, peserta mempelajari cara mengisi formulir katalogisasi serta mempraktikkan alur lengkap pendokumentasian koleksi, mulai dari penanganan objek, observasi detail visual dan material, hingga penyusunan informasi perjalanan koleksi (provenance).

Tiga Koleksi Perwakilan Workshop Museum Kesejarahan (MSJ)
Siangko (Mahkota/perhiasan pengantin perempuan Betawi), Miniatur Oplet, dan Piring Imari Ware merupakan tiga koleksi yang menjadi contoh dalam praktek pengisian katalogisasi saat sesi workshop di Museum Sejarah Jakarta (MSJ).

(Siangko) merupakan mahkota yang dikenakan oleh pengantin perempuan Betawi yang merupakan hasil akulturasi budaya dari Tionghoa, Arab, dan Melayu yang hidup berdampingan di wilayah Jakarta. Mahkota ini menunjukkan status sosial pengantin yang umumnya berasal dari kalangan menengah ke atas.

Miniatur Oplet merepresentasikan salah satu moda transportasi darat populer pada era 1960–1970-an yang digunakan masyarakat Jakarta. Oplet menjadi populer karena pada masanya, transportasi berbasis bus masih jarang ditemui di Jakarta.

Sementara Piring (Imari Ware) merupakan koleksi keramik produksi Jepang bergaya Imari yang berasal dari Arita (Provinsi Hizen, Kyushu), dan diproduksi pada abad ke-19. Istilah “Imari” merujuk pada pelabuhan Imari sebagai pusat pengapalan keramik untuk eksportir Jepang.

Keramik ini menjadi salah satu komoditas penting dalam perdagangan VOC pada abad ke-17 hingga ke-18, sekaligus menjadi bukti dinamika dan persaingan dagang VOC dengan Tiongkok di Batavia.

Koleksi Sketsa Henk Ngantung di Museum Seni Rupa & Keramik

Sketsa PM Sjahrir & Michael Wright serta Sketsa Penandatangan karya Henk Ngantung merupakan dua koleksi yang digunakan dalam praktek pengisian katalogisasi saat sesi workshop di Museum Seni Rupa & Keramik (MSRK) Jakarta.

Henk Ngantung (Hendrik Hermanus Joel Ngantung) merupakan seorang pelukis yang memulai perjalanan karirnya setelah pindah dari Tomohon ke Bandung. Di tahun 1937, ia belajar melukis kepada pelukis Austria Prof. Rudolf Wenghart dan Prof. Wolff Schoemaker selama kurang lebih empat tahun (1937–1941) dan tergabung dalam kelompok Lima Pelukis Bandung, sebelum pindah ke Jakarta (Batavia) pada 1940.

Karya-karya Henk Ngantung dikenal karena menggambarkan berbagai peristiwa perjuangan kemerdekaan Indonesia seperti Sketsa Perundingan Linggarjarti yang dibuat pada tahun 1946, serta keterlibatannya dalam pengembangan seni publik pada dekade 1950–1960-an.

Sketsa koleksi pertama di Museum Seni Rupa & Keramik (MSRK) berjudul konferensi pers yang digambarkan gaya realis dan menampilkan figur Perdana Menteri Sjahrir dan Michael Wright. Sementara untuk Sketsa Penandatangan menggambarkan suasana penandatanganan naskah Perjanjian Linggarjati yang berlangsung di Paleis Rijswijk, Djakarta.

Karya-karya Henk Ngantung kerap dikenal karena ketertarikannya dengan berbagai peristiwa perjuangan kemerdekaan Indonesia serta berbagai usaha pembangunan seni publik di tahun 1950 hingga 1960-an.

Katalogisasi dan Digitalisasi Koleksi Prioritas

Museum Sejarah Jakarta saat ini mengelola 6.382 objek yang mencakup furnitur, senjata, keramik, koleksi arkeologi, koleksi etnografi, dan lukisan, dengan kondisi yang beragam.

Sementara itu, Museum Seni Rupa & Keramik menyimpan sekitar 400 lukisan dan lebih dari 10.000 koleksi keramik.

SEAMS melalui #KoleksiKita bekerja sama dengan museum terkait memilih objek prioritas yang memiliki nilai sejarah, estetika, maupun signifikansi pelestarian yang tinggi.

Di MSJ, terpilih 243 koleksi yang di antaranya mencakup perhiasan pengantin Betawi, cetakan kue, dan lukisan Batavia. Sementara di MSRK, dipilih 96 objek yang terdiri atas 49 lukisan dan 47 sketsa.

Melalui kegiatan ini, museum diharapkan semakin kuat dalam melakukan katalogisasi dan penelusuran provenans koleksi. Data yang dihasilkan nantinya akan tersedia bagi publik melalui platform Jakarta Digital Collections.

Tim #KoleksiKita juga menerapkan standar katalogisasi internasional seperti Getty Vocabularies (AAT, TGN, ULAN) dan Library of Congress Subject Headings (LCSH) guna meningkatkan kualitas dokumentasi, pelestarian, serta aksesibilitas koleksi.

Kegiatan ini terselenggara berkat dukungan U.S. Ambassadors Fund for Cultural Preservation (AFCP), yang berkomitmen mendukung pelestarian bangunan bersejarah, situs arkeologi, objek budaya, koleksi museum, serta ekspresi tradisional seperti bahasa dan musik di berbagai negara mitra.

bottom of page