top of page

Koleksi Kita Lanjut ke Museum Sejarah Jakarta & Museum Seni Rupa Keramik

19 Mar 2026

SEAMS melalui Koleksi Kita melanjutkan kegiatan katalogisasi dan digitalisasi pada bulan Februari di Museum Sejarah Jakarta (MSJ) dan Museum Seni Rupa & Keramik (MSRK).

Lebih dari 300 objek koleksi di Museum Sejarah Jakarta (MSJ) dan Museum Seni Rupa & Keramik (MSRK) akan dapat diakses pada data Koleksi Jakarta atau Jakarta Digital Collections (JDC) yang akan diluncurkan pada pertengahan tahun 2026.

Sebagai bagian dari penguatan narasi koleksi museum di bawah Dinas Kebudayaan Provinsi Jakarta, tim katalogisasi dari kedua museum juga melakukan penelitian provenans dan pengayaan konteks dengan menghadirkan narasumber ahli untuk beberapa koleksi. Di antaranya koleksi perhiasan Betawi MSJ bersama Ketua Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB), Yahya Andi Saputra, serta koleksi lukisan dan sketsa Henk Ngantung bersama putri Henk Ngantung, Geni Ngantung.

Katalogisasi dan digitalisasi 243 objek koleksi di Museum Sejarah Jakarta menghasilkan beberapa tema kajian, di antaranya perkembangan transportasi Jakarta melalui koleksi miniatur transportasi, serta budaya Maritim Jakarta melalui koleksi alat penangkap ikan, perahu, dan miniatur perahu.

Sementara untuk 101 objek koleksi Museum Seni Rupa & Keramik yang terdiri dari koleksi lukisan dan sketsa menggunakan konteks sejarah serta tokoh penyumbang dari masing-masing karyanya, yaitu seniman Henk Ngantung, Hendra Gunawan, S. Sudjojono, Trubus, Emiria Soenassa, dan Siti Roelijati.

Menelusuri Sejarah Transportasi Jakarta

Museum Sejarah Jakarta merupakan rumah dari beragam jenis koleksi yang menggambarkan perkembangan dan kehidupan masyarakat kota Jakarta, mulai dari perhiasan, miniatur, alat musik, alat cetak kue, hingga perabotan.

Salah satu jenis koleksi yang merepresentasikan perkembangan dan aspek kehidupan kota Jakarta adalah miniatur. Koleksi miniatur Museum Sejarah Jakarta mencakup transportasi, rumah, hingga keranjang pedagang asongan yang menggambarkan kehidupan masyarakat Jakarta tempo dulu.

Transportasi umum sendiri menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari identitas kota Jakarta Jauh sebelum Transjakarta dikenal sebagai jaringan bus raya terpadu, berbagai moda transportasi telah muncul silih berganti, menandai perkembangan zaman serta pertumbuhan kota Jakarta.

Kemudian seiring dengan kemunculan becak di Jakarta, muncul pula moda transportasi lain yaitu oplet. Kendaraan ini dibuat dengan memodifikasi sasis mobil sedan buatan Eropa dengan menambahkan kabin kayu di bagian belakang pengemudi, yang semakin dikenal karena muncul di serial Betawi legendaris, ‘Si Doel Anak Sekolahan’.

Selanjutnya juga terdapat kendaraan yang digadang-gadang sebagai bentuk peremajaan transportasi umum becak, yakni bemo. Bertepatan dengan penyelenggaraan GANEFO (Games of the New Emerging Forces) di Jakarta, pemerintah melakukan pengadaan bemo untuk menggantikan beberapa moda transportasi lama.

Museum Sejarah Jakarta juga memiliki miniatur transportasi yang digunakan masyarakat Jakarta untuk penyeberangan sungai, yakni perahu eretan. Meskipun tidak diketahui secara pasti kapan mulai digunakan, keberadaan perahu ini menunjukkan kreativitas masyarakat dalam mengatasi tantangan mobilitas di wilayah hilir dengan sungai-sungai yang lebar di Jakarta.

Selain koleksi miniatur transportasi, Museum Sejarah Jakarta juga menyimpan koleksi miniatur saung, miniatur rumah Tionghoa, dan miniatur keranjang pedagang asongan.

Melihat Sejarah Pra-Kemerdekaan melalui Medium Seni

Ketika membicarakan masa pra-kemerdekaan Indonesia melalui karya seni, Museum Seni Rupa & Keramik menjadi salah satu rujukan penting karena menyimpan berbagai lukisan dan sketsa yang merekam periode tersebut.

Perkembangan seni rupa di Indonesia sangat dipengaruhi oleh kondisi sosial, budaya, politik, agama, dan diplomasi pada masa pemerintahan tertentu. Oleh karena itu, karya seni rupa sering dikelompokkan berdasarkan periode, seperti masa Hindia Belanda (kolonial), pendudukan Jepang, kemerdekaan, Orde Baru, Reformasi, hingga masa modern.

Sebelum Indonesia merdeka, banyak seniman yang menghasilkan karya lukisan maupun sketsa yang merekam berbagai peristiwa pada masa tersebut. Salah satunya adalah Henk Ngantung.

Karya-karya Henk Ngantung dikenal karena keterkaitannya dengan berbagai peristiwa perjuangan kemerdekaan Indonesia serta upaya pembangunan seni publik pada 1950–1960-an.

Koleksi sketsa Henk Ngantung yang tersimpan di Museum Seni Rupa & Keramik banyak menggambarkan suasana perjuangan kemerdekaan, seperti aktivitas latihan militer pemuda Indonesia atau Pembela Tanah Air (PETA) pada masa pendudukan Jepang, dokumentasi Perjanjian Linggarjati, serta sketsa Monumen Pembebasan Irian Barat.

Karya Henk Ngantung di tahun 1944 yang banyak menampilkan tentara PETA membuatnya dikenal sebagai pelukis realis, yaitu seniman yang menggambarkan subjek dengan akurasi mendekati kenyataan berdasarkan observasi langsung.
Tahun 1944 merupakan momen penting dalam periode menjelang kemerdekaan Indonesia. Pada masa tersebut, Jepang mulai menjanjikan kemerdekaan kepada Indonesia sebagai strategi untuk memperoleh dukungan masyarakat lokal di tengah semakin besarnya tekanan Sekutu dalam Perang Dunia II.

Karya-karya Henk Ngantung tidak hanya memiliki nilai artistik, tetapi juga berfungsi sebagai medium dokumentasi yang merekam dinamika sosial dan politik pada masa itu. Melalui pengamatannya sebagai seniman, ia menghadirkan berbagai peristiwa dan suasana menjelang kemerdekaan dalam bentuk visual yang merefleksikan kondisi zamannya.

Kegiatan ini tidak dapat terlaksana tanpa dukungan U.S. Ambassadors Fund for Cultural Preservation (AFCP) yang berkomitmen pada pelestarian bangunan bersejarah, situs arkeologi dan budaya, objek serta koleksi museum, serta ekspresi budaya tradisional di negara-negara mitra.

Nantikan edisi Koleksi Jakarta berikutnya bersama Museum Bahari dan Museum Betawi.

bottom of page