%20(1).jpg)
Jakarta Digital Collections Highlights in Museum Tekstil dan Museum Wayang
31 Jan 2026
Melalui inisiatif #KoleksiKita, Jakarta Digital Collections (JDC) telah melakukan proses digitalisasi dan katalogisasi terhadap lebih dari 180 objek di dua museum, yakni Museum Tekstil Jakarta dan Museum Wayang Jakarta, sepanjang bulan Desember–Januari.
Jakarta Digital Collections (JDC) merupakan inisiatif SEAMS melalui #KoleksiKita, yang berkolaborasi dengan Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta khususnya bersama 12 museum dan galeri di bawah pengelolaannya.
Inisiatif ini bertujuan membuka akses publik terhadap koleksi museum melalui proses digitalisasi dan katalogisasi yang sistematis.
Proses ini bertujuan untuk menghasilkan dokumentasi visual berkualitas tinggi serta memastikan setiap objek memiliki data yang terverifikasi. Seluruh hasilnya akan dapat diakses oleh publik melalui platform Jakarta Digital Collections yang dijadwalkan diluncurkan pada tahun 2026.
Menelusuri Ragam Wastra Tradisi Melalui Kain Museum Tekstil
Museum Tekstil dikenal memiliki sejumlah koleksi wastra tradisi Indonesia yang merekam keragaman kain tradisi Indonesia.
Koleksi yang tersimpan mencerminkan kekayaan teknik, motif, dan konteks budaya kain Nusantara, di antaranya kain motif Sawunggaling karya Go Tik Swan, Kain Gringsing Wayang Kebo milik Ida Anak Agung Gde Agung, serta Kain Kampuhan milik Sri Sultan Hamengkubuwono X.
Sebagian besar koleksi kain di Museum Tekstil merupakan sumbangan dari anggota Himpunan Wastraprema (HWP) yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.
Anggota awal Himpunan Wastraprema terdiri dari tokoh-tokoh penting dan pemerhati budaya, antara lain Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan X, Ibu Lasmidjah Hardi, G.K.P. Mangkunegoro, Ibu Herawati Diah, Sekartini Sofyar, Ibu Mien Sjahfiri Alim, Ir. Safioen, Ida Anak Agung Gde Agung, Jean Henry Sudarmadji Damais, Ir. Martono, dan lainnya.
Melestarikan Budaya Wayang melalui Museum Wayang
Museum Wayang merupakan rumah bagi sekitar 6.863 objek yang mencakup wayang, alat musik, alat pembuat wayang, boneka, topeng, hingga lukisan. Koleksi-koleksi ini merepresentasikan perjalanan panjang seni pertunjukan dan budaya wayang di Indonesia.
Pemilihan objek dalam proses katalogisasi dan digitalisasi difokuskan pada Koleksi Wayang Revolusi dengan pertimbangan asal-usul objek, konteks kesenian dalam masa revolusi.
Lalu Boneka Si Unyil dengan pertimbangan peran boneka sebagai media edukasi anak pertama di Indonesia dalam bentuk karakter lokal, serta signifikansi tokoh dan konteks budaya yang melekat pada Boneka Amerika.
Secara keseluruhan, koleksi Museum Wayang memiliki nilai sejarah yang mendalam karena mencerminkan kompleksitas dinamika sosial, budaya, dan politik yang membentuk perjalanan nasional Indonesia.
Digitalisasi 200+ Koleksi Di Dua Museum
Selain katalogisasi, SEAMS melalui #KoleksiKita juga melakukan digitalisasi terhadap koleksi-koleksi prioritas di Museum Tekstil dan Museum Wayang sepanjang bulan Desember–Januari.
Di Museum Tekstil, proses digitalisasi menghadirkan tantangan tersendiri, terutama pada kain-kain berukuran besar, seperti Kain Kampuhan Dodot milik Sri Sultan Hamengkubuwono X, yang membutuhkan penanganan dan pengambilan gambar secara khusus.
Sementara di Museum Wayang, digitalisasi dilakukan dengan pendekatan multi-sisi. Misalnya pada Wayang Revolusi, pengambilan gambar dilakukan pada sisi depan dan belakang, sedangkan Boneka Si Unyil dan Boneka Amerika dilakukan pada tiga sisi depan, serong, dan belakang.
Proses ini juga memerlukan kehati-hatian tinggi karena kondisi objek yang rentan, terutama pada bagian sambungan antara tangan dan pegangan.
Kegiatan ini tidak dapat terlaksana tanpa dukungan U.S. Ambassadors Fund for Cultural Preservation (AFCP) yang berkomitmen pada pelestarian bangunan bersejarah, situs arkeologi dan budaya, objek dan koleksi museum, serta ekspresi tradisional di negara-negara mitra.
Nantikan #KoleksiKita bulan berikutnya bersama Museum Kesejarahan dan Museum Seni Rupa dan Keramik.