.png)
Henk Ngantung, Seniman di Balik Sketsa Museum Seni Rupa & Keramik
6 Mar 2026
Museum Seni Rupa & Keramik menyimpan beragam koleksi berupa keramik, patung, lukisan, hingga sketsa dari karya seniman-seniman di Indonesia. Salah satunya adalah karya Henk Ngantung, seniman kelahiran Bogor, 1 Maret 1921. Ia juga merupakan Gubernur DKI Jakarta periode 1964-1965.
‘Patung Selamat Datang’ yang berlokasi di Bundaran HI merupakan salah satu hasil rancangan Henk Ngantung yang ikonik, bersama tim pematung Edhi Sunarso. Henk merancangnya saat masih menjabat sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta.
Museum Seni Rupa & Keramik memiliki sekitar 16 lukisan karya Henk Ngantung. Sebagian besar karya dari periode tersebut menggambarkan sketsa tentara PETA (Pembela Tanah Air) dalam berbagai pose dan aktivitas, seperti menerima perintah, berjaga, mengintai, mendiskusikan strategi, hingga beristirahat. Gaya realisme Henk Ngantung dikenal mampu menangkap subjek secara akurat berdasarkan pengamatan langsung.
Sketsa-Sketsa Henk Ngantung di Museum Seni Rupa & Keramik
Koleksi sketsa Henk Ngantung di Museum Seni Rupa & Keramik sebagian besar merekam suasana perjuangan kemerdekaan. Di antaranya terdapat penggambaran aktivitas latihan militer para pemuda Indonesia dalam PETA, dokumentasi Perjanjian Linggarjati, hingga sketsa rencana Monumen Pembebasan Irian Barat.
Tak hanya berkarya sebagai pelukis dan pematung, Henk juga berperan sebagai pengamat kondisi rakyat di tengah situasi perang. Ia merekam penderitaan, ketegangan, sekaligus semangat perjuangan melalui goresannya. Bagi Henk, seni menjadi medium untuk menyalurkan harapan dan membayangkan masa depan bangsa.
Salah satu karya pentingnya adalah Sketsa Rencana Monumen Pembebasan Irian Barat. Sketsa ini menjadi bukti visual dalam sejarah dekolonisasi Indonesia, sekaligus mencatat bagaimana kemenangan politik dan diplomatik diabadikan ke dalam ruang publik melalui seni.
Dalam rancangan awal tersebut, Henk tidak sekadar menggambar monumen yang statis. Ia menangkap gestur seorang pria yang mematahkan belenggu rantai di kaki dan tangannya, sebuah simbol pembebasan rakyat Irian Barat dari kolonialisme Belanda. Patung tersebut kemudian direalisasikan oleh tim pematung Keluarga Arca di bawah pimpinan Edhi Sunarso.
Sketsa-sketsa PETA yang menjadi jumlah terbanyak dalam koleksi museum menggambarkan adegan latihan militer dan penyusunan taktik. Karya-karya ini menjadi catatan visual yang langka mengenai organisasi paramiliter bentukan Jepang yang kelak menjadi cikal bakal Tentara Nasional Indonesia (TNI). Melalui sketsa tersebut, Henk mendokumentasikan transisi pemuda Indonesia dari masyarakat sipil menjadi kekuatan militer yang terorganisasi.
Sementara itu, dalam Sketsa Perjanjian Linggarjati, Henk Ngantung berperan sebagai perekam momen resmi bersama wartawan melalui ajakan Bung Karno pada 11-13 November 1946. Sketsa ini menjadi dokumen sejarah primer, di masa kamera fotografi masih terbatas, sketsa Henk mampu menangkap detail-detail perundingan yang luput dari lensa kamera.
Adapun sketsa lain yang bernuansa kritik terhadap kolonialisme, sindiran terhadap birokrasi, dan semangat kemerdekaan memiliki ciri khas penggunaan simbol visual. Sosok Belanda digambarkan lebih kaku dan sombong, sementara sosok pejuang tampil lebih dinamis.
Di luar koleksi yang tersimpan di Museum Seni Rupa & Keramik, Henk Ngantung juga turut menggambar rancangan Patung Selamat Datang di Bundaran Hotel Indonesia, merancang Lambang DKI Jakarta yang bertuliskan “Jaya Raya”, serta air mancur di Bundaran Bank Indonesia, yang pada saat peresmiannya dikenal sebagai Ngantung Fountain.
Henk Ngantung: Gubernur DKI Jakarta berdarah Seniman
Henk Ngantung, yang memiliki nama lengkap Hendrik Joel Hermanus, tumbuh dan besar di Tomohon, Sulawesi Utara. Ia dikenal sebagai pelukis otodidak, karena pada usia 13 tahun, ia mengasah bakatnya melalui E. Katoppo, kepala sekolah tempatnya menempuh pendidikan dasar, yang mendorong dan menguatkan bakat melukisnya.
Setahun kemudian, saat usianya 14 tahun, Henk telah menggelar pameran tunggal di Manado di mana hasil penjualan karyanya membiayai perjalanannya merantau ke Pulau Jawa.
Kemudian pada 1937–1940, ia memantapkan niatnya untuk belajar seni dengan menetap di Bandung dan belajar melukis kepada pelukis Austria, Prof. Rudolf Wenghart dan Prof. Wolf Schoemaker. Tak hanya belajar, ia juga bergabung dengan kelompok 5 Pelukis Bandung.
Setelah dari Bandung, Henk kemudian pindah ke Batavia dan menetap sampai akhir hayatnya. Ia juga bergabung dengan Bataviasche Bond van Kunstkringen, serta aktif di Keimin Bunka Shidōsho pada masa pendudukan Jepang.
Henk dalam praktik berkeseniannya kerap merekam kehidupan masyarakat kelas bawah, seperti penjual ikan, tukang becak, kusir delman, hingga pedagang buah yang menunjukkan keberpihakannya pada realitas sosial.
Ia juga menjadi anggota Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA) dan aktif dalam pergerakan budaya dan politik, serta dekat dengan Presiden Soekarno. Kedekatannya dengan presiden pertama Indonesia ini berawal dari pertemuan di pameran-pameran seni pada masa pendudukan Jepang. Soekarno yang memiliki background arsitek, gemar mengunjungi pameran seni.
Bung Karno terkesan dengan karya seni Henk Ngantung, salah satu momen penting yang terjadi adalah ketika Henk membuat sketsa wajah Soekarno secara langsung. Bung Karno terkesan pada kecepatan dan ketepatan goresannya, dan sejak itu Henk kerap diajak dalam berbagai acara penting kepresidenan.
Melihat potensinya sebagai seniman sekaligus “perekam zaman”, Soekarno kemudian mengangkatnya sebagai Wakil Gubernur (1960–1964) dan Gubernur DKI Jakarta pada 1964. Soekarno saat itu memiliki visi untuk mempercantik kota Jakarta, dan mendorong kota ini menjadi kota yang berbudaya.
Proses penelusuran provenans bersama Geni Ngantung mengungkap bagaimana karya-karya Henk Ngantung dapat menjadi koleksi Museum Seni Rupa & Keramik. Diketahui bahwa sebagian besar karya tersebut masuk ke museum melalui mekanisme hibah dari Pertamina.
Berdasarkan hasil penelusuran, Henk Ngantung menjual sejumlah sketsa kepada rekannya, Piet Haryono, yang saat itu menjabat sebagai Direktur Utama Pertamina. Selanjutnya, karya-karya itu secara resmi dihibahkan dan menjadi bagian dari koleksi Museum Seni Rupa & Keramik.
Akses Koleksi Melalui Jakarta Digital Collections
Cerita koleksi sketsa karya Henk Ngantung dapat diakses melalui portal Jakarta Digital Collections (JDC) yang direncanakan diluncurkan pada pertengahan 2026.
JDC merupakan inisiatif SEAMS melalui program #KoleksiKita, berkolaborasi dengan Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta serta 12 museum di bawah pengelolaannya. Program ini bertujuan membuka akses publik terhadap koleksi museum melalui digitalisasi dan katalogisasi.
Kegiatan ini didukung oleh U.S. Ambassadors Fund for Cultural Preservation (AFCP), yang berkomitmen mendukung pelestarian bangunan bersejarah, situs arkeologi dan budaya, objek dan koleksi museum, hingga ekspresi budaya tradisional di berbagai negara.