top of page

Google Arts & Culture Luncurkan Platform Digital Gambar Keuneubah Aceh

10 Feb 2026

Museum Nasional Indonesia (MNI) di bawah Museum dan Cagar Budaya (MCB), bekerja sama dengan Yayasan Jalin Narasi Budaya atau Southeast Asia Museum Services (SEAMS) melalui program Koleksi Kita (Indonesian Museums Documentation Project), menyelenggarakan Seminar Kuratorial sekaligus Peluncuran Pameran Digital Keuneubah Aceh pada platform Google Arts & Culture, di @america, Pacific Place Mall Jakarta pada, Selasa, 10 Februari 2026.

Keuneubah Aceh merupakan pameran digital yang menelusuri kisah-kisah tersembunyi di balik benda-benda koleksi yang diperoleh dari masa perang kolonial di Aceh (1873-1912) yang tersimpan di Museum Nasional Indonesia.

Bekerja sama dengan Google Arts & Culture, dengan merilis situs digital yang memuat gambar dan deskripsi koleksi perang Belanda di Aceh, pameran ini bertujuan memperkuat sistem dokumentasi, meningkatkan riset asal-usul (provenans), menstandarkan alur kerja katalogisasi, serta memperluas akses digital terhadap koleksi MNI tersebut.

Pameran ini menyoroti temuan-temuan kunci yang diperoleh melalui pendekatan penelitian partisipatif dalam mempelajari objek-objek koleksi Aceh MNI, melalui kerja sama dengan Museum Aceh, Museum Pedir, Museum Negeri Gayo, dan Rumah Teuku Awe Geutah.

Riset terhadap koleksi dalam pameran ini telah dilakukan sejak 2025 oleh tim MNI dan SEAMS. Sejumlah kegiatan, seperti pengembangan formulir katalogisasi baru, penelitian arsip, penilaian kondisi, dan digitalisasi, dilaksanakan pada 29 Juli hingga 1 Agustus 2025.

Kedua tim pameran ini juga telah melakukan penelitian lapangan ke Aceh pada 29 September hingga 3 Oktober 2025 untuk berkonsultasi dengan masyarakat dan tokoh lokal serta mengumpulkan data seperti foto dan sejarah lisan.

Seminar & Pameran ini dibuka dengan sambutan Kepala Museum dan Cagar Budaya (MCB), Esti Nurjadin. “Kami sangat menghargai kolaborasi antara MNI, SEAMS, dan dukungan dari US AFCP. Kemitraan ini menunjukkan bahwa penguatan museum nasional membutuhkan kerja sama lintas lembaga, lintas disiplin, dan internasional.” ujar Esti saat sesi sambutan.

Kemudian sambutan dilanjutkan oleh Public Diplomacy Officer Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta, Jamie Ravetz, sekaligus perwakilan dari US AFCP. “Melalui AFCP, Pemerintah AS berkomitmen untuk mendukung upaya pelestarian warisan budaya Indonesia, sekaligus menampilkan keunggulan Amerika.” ujar Jamie sebelum membuka seminar kuratorial ini.

Perwakilan dari SEAMS, Project Lead dari kegiatan Koleksi Kita, Dyah Pandam Mitayani juga menyampaikan harapannya terkait pameran ini, “Saya berharap publik dapat melihat bahwa koleksi museum tidak bersifat statis, maknanya terus berkembang seiring dengan riset yang lebih mendalam, dokumentasi yang lebih baik, serta keterbukaan untuk mendengarkan berbagai perspektif.” ujarnya.

Dyah menekankan bahwa pameran ini bukanlah titik akhir, melainkan titik awal, untuk dialog, riset lanjutan, dan kolaborasi-kolaborasi kedepannya.

Kemudian Kurator koleksi MNI & MCB, Eko Septian Saputra, membuka sesi seminar dengan membagikan pengalamannya selama kegiatan penelitian berlangsung.

Ia menjelaskan pengalamannya saat terjun ke lokasi penelitian dengan mencoba mencari narasumber yang relevan dengan koleksi ini.

Eko menambahkan bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat bagi masyarakat dan Museum Nasional Indonesia agar koleksi-koleksi tersebut dapat terus dilestarikan dan dikomunikasikan kepada publik.

Sebagai platform terdepan dalam pemanfaatan teknologi informasi untuk pelestarian budaya selama lebih dari satu dekade, Google Arts & Culture telah dikenal luas karena kontribusinya dalam mendukung pelestarian warisan budaya secara berkelanjutan sekaligus menyediakan akses terbuka bagi masyarakat global.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan tur kuratorial yang dipresentasikan oleh Ayu Dipta Kirana (Karin), peneliti SEAMS sekaligus Dosen Sosiologi dan Antropologi Universitas Sebelas Maret.

Karin menjelaskan empat bab utama dalam tur pameran ini, yaitu Perang Belanda di Aceh, Sejarah Asal-Usul Koleksi Aceh, Suara dari Aceh, dan Kisah Baru Objek Koleksi.

Ia menekankan bahwa riset ini membantu membuka berbagai cerita yang tersembunyi di balik koleksi. Salah satu koleksi tersebut adalah koleksi Bendera yang ternyata setelah ditelusuri menyimpan banyak cerita bersejarah.

Selain Karin, tur virtual Google Arts & Culture ini juga dilanjutkan oleh Hafnidar, peneliti SEAMS sekaligus mantan Direktur Museum Tsunami Aceh dan Museum Aceh.

Ia menutup sesi tur ini dengan menekankan kembali tujuan dari hasil riset ini yaitu untuk dapat menghidupkan cerita di balik koleksi museum, serta mengungkap informasi provenans melalui dokumentasi.

Saat ini pameran koleksi digital Keuneubah Aceh Museum Nasional Indonesia sudah dapat diakses publik melalui laman resmi Google Arts & Culture: https://goo.gle/keunabahaceh

Kegiatan ini didukung oleh U.S. Ambassadors Fund for Cultural Preservation (AFCP), yang berkomitmen mendukung pelestarian bangunan bersejarah, situs arkeologi dan budaya, serta objek dan koleksi museum, termasuk berbagai bentuk ekspresi budaya tradisional di negara-negara mitra.

bottom of page