.jpg)
Rangkaian #KoleksiKita Berlanjut di Museum Betawi
1 Apr 2026
Museum Betawi menjadi lokasi selanjutnya pelaksanaan Workshop Katalogisasi #KoleksiKita yang diselenggarakan oleh SEAMS.
Kegiatan ini juga dilaksanakan bersamaan dengan wrap-up meeting yang memaparkan hasil proses katalogisasi koleksi Museum Betawi oleh tim kataloger SEAMS selama satu bulan. Sebanyak 77 objek koleksi telah berhasil dikatalogisasi di mana selanjutnya tim digitasi akan memulai dokumentasi foto untuk memperkuat data koleksi museum.
Berlokasi di ruang rapat Rumah Makan Betawi, Museum Betawi, workshop ini diikuti oleh sepuluh peserta dari pihak museum. Kegiatan dibuka dengan pengenalan Koleksi Kita serta pemaparan tujuan workshop, kemudian dilanjutkan dengan pembahasan materi objek dan praktik katalogisasi dalam beberapa kelompok.
Museum Betawi sendiri menyimpan sekitar 520 objek koleksi yang beragam, meliputi koleksi rumah tangga, tekstil, aksesoris, senjata, furnitur, teknologi, foto, lukisan, hingga karya seni lainnya seperti alat musik dan kriya.
Selama sesi workshop, peserta juga mempelajari alur lengkap pendokumentasian koleksi, mulai dari penanganan objek, observasi detail visual dan material, hingga penyusunan riwayat perjalanan koleksi (provenance).
Sesi praktik katalogisasi ini menggunakan 3 koleksi yakni, Tudung Cetok, Gasing, dan Kembang Topeng untuk melatih peserta mengisi berbagai elemen penting dalam formulir katalogisasi, seperti foto objek, nomor identifikasi, kepemilikan koleksi, tipe objek, deskripsi fisik, metode produksi, material, kondisi, hingga dokumentasi pendukung lainnya.
Praktik Katalogisasi Tiga Koleksi Pilihan Museum Betawi
Sesi praktik katalogisasi Museum Betawi ini menggunakan tiga objek koleksi sebagai studi kasus, yaitu Tudung Cetok, Gasing, dan Kembang Topeng. Melalui objek-objek ini, peserta dilatih untuk mengisi berbagai elemen penting dalam formulir katalogisasi, seperti foto objek, nomor identifikasi, kepemilikan, tipe objek, deskripsi fisik, metode produksi, material, kondisi, hingga dokumentasi pendukung lainnya.
Tudung Cetok merupakan penutup kepala yang digunakan masyarakat Betawi saat bertani. Aktivitas pertanian banyak dilakukan di wilayah pinggiran Jakarta seperti Jagakarsa, Cilangkap, dan Ciracas, dengan komoditas utama berupa padi, sayuran, dan buah-buahan.
Bentuknya yang kerucut dirancang agar air hujan langsung mengalir ke bawah, sekaligus melindungi pengguna dari terik matahari. Koleksi ini merupakan sumbangan Bapak Buchori, seorang penggiat budaya dan mantan pegawai Museum Betawi pada tahun 2020.
Gasing, atau dikenal juga sebagai pangga, merupakan salah satu permainan tradisional tertua di Indonesia yang telah ada sejak sebelum masa kolonial, Pada umumnya alat yang digunakan dalam gasing ini terbuat dari kayu, namun ada juga yang dibuat dari plastik atau lainnya.
Meskipun tampak sederhana, permainan gasing membutuhkan keterampilan khusus, mulai dari melilitkan tali hingga melemparkannya agar dapat berputar stabil, bahkan hingga satu menit. Koleksi ini juga merupakan hibah dari Bapak Buchori pada tahun yang sama.
Sementara itu, Kembang Topeng merupakan aksesoris kepala yang digunakan dalam pertunjukan Tari Topeng Betawi. Aksesoris ini dikenakan bersama konde, terbuat dari kawat logam yang dilapisi kain, serta dihiasi benang wol berwarna-warni dan manik-manik di kedua sisi.
Tari Topeng Betawi kerap ditampilkan dalam berbagai acara penting seperti pernikahan dan peresmian, serta berfungsi sebagai media penyampaian kisah (hikayat) dan nilai-nilai budaya leluhur.
Koleksi Kembang Topeng ini merupakan hibah dari Mpok Manih, seorang budayawan Betawi sekaligus pemilik Yayasan Sanggar Betawi Mak Manih H. Nirin yang berdiri sejak tahun 1989.
Tim kataloger SEAMS juga melakukan konsultasi terkait koleksi Kembang Topeng bersama Mpok Linda Nirin, pada 3 Maret 2026. Dalam sesi ini, tim berdiskusi untuk menelusuri konteks Tari Topeng Betawi, cerita di balik kostum-kostumnya, serta perjalanan sanggar tari Mak Manih.
Selain Mpok Manih, dan Bapak Buchori, koleksi Museum Betawi juga berasal dari penyumbang lainnya, yakni Ibu Ema Agus Bisri, Mpok Engkar Karmila Sari (Mpok Nori), dan Pak Udin.
Di akhir sesi workshop, peserta mempresentasikan hasil praktik katalogisasi dalam kelompok yang telah dibagi berdasarkan objek koleksi. Setiap kelompok memaparkan hasil praktiknya, dilanjutkan dengan diskusi bersama tim SEAMS terkait asal-usul pengisian data koleksi secara lebih akurat dan kredibel.
Ke depannya, publik dapat menelusuri lebih banyak cerita mengenai koleksi Museum Betawi melalui portal Jakarta Digital Collections (Koleksi Jakarta) yang akan diluncurkan pada pertengahan 2026.
Kegiatan ini terselenggara berkat dukungan U.S. Ambassadors Fund for Cultural Preservation (AFCP), yang berkomitmen mendukung pelestarian warisan budaya di berbagai negara, termasuk bangunan bersejarah, situs arkeologi, objek budaya, koleksi museum, serta ekspresi budaya tradisional seperti bahasa dan musik.