top of page

Merekam Revolusi melalui Karikatur Koleksi Museum Joang ’45

9 Jan 2026

Museum Joang ’45 merupakan salah satu museum di Jakarta yang menyimpan sejumlah objek seni karya para perupa Indonesia.

Salah satu koleksi penting museum ini adalah 68 karya karikatur yang diproduksi oleh para seniman dan maestro seni lukis Indonesia.

Karikatur-karikatur ini menjadi medium bagi para seniman untuk merekam memori perjuangan kemerdekaan pada masa revolusi.

Peran Karikatur di Masa Revolusi

Karikatur mampu menyampaikan pesan melalui gambar dan simbol yang sederhana, sehingga dapat dipahami oleh berbagai lapisan masyarakat.

Secara historis, karikatur koleksi Museum Joang ’45 berfungsi sebagai media propaganda pada masa revolusi untuk menyebarkan informasi kepada masyarakat luas.

Karikatur-karikatur ini umumnya memuat tema dan konsep nasionalisme, dengan ciri visual yang menampilkan simbol-simbol kenegaraan serta figur pemimpin atau pejuang.

Beberapa contohnya seperti Karikatur Belanda Menawarkan Kursi ke tokoh Indonesia, Karikatur Pasukan Republik sedang Meloncat di atas teng baja dan dilemparkannya sebuah granat ke dalam menaranya, serta Karikatur Bintang Baru Nampak di Indonesia.

Sebagian karikatur ada yang dibuat di atas kertas seadanya, seperti kertas bekas dan kertas buram, yang mengindikasikan proses pengerjaan yang spontan. Salah satunya adalah Karikatur Nyonya sedang Memberikan Baju kepada Bocah NICA karya Abdoelsalam (1947).

Karikatur tersebut menggambarkan tokoh anak kecil Belanda yang berhadapan dengan seorang perempuan atau nyonya yang sedang mengusap mata dan mengepalkan tangan, serta seorang tokoh laki-laki yang mengenakan kaos oblong dengan selempang bertuliskan “Indonesia” di luar ruangan.

Ke-68 karikatur koleksi Museum Joang ’45 ini merupakan sumbangan dari Sukartinah, sosok yang aktif dalam jejaring seni dan kebudayaan pada masanya. Bersama suaminya, seniman Trisno Sumardjo, mereka terlibat dalam dunia seni dan intelektual Indonesia, meskipun peran perempuan dalam lingkaran ini kerap luput dari pencatatan sejarah.

Untuk memahami peran karikatur-karikatur ini secara lebih utuh, penting melihat Seniman Indonesia Muda (SIM) sebagai kolektif seni yang memproduksi karikatur koleksi Museum Joang ’45.

Seniman Indonesia Muda (SIM)

Seniman Indonesia Muda (SIM) adalah sebuah organisasi yang berdiri pada 1946, diprakarsai oleh sejumlah seniman dan maestro seni lukis Indonesia, S. Sudjojono, Trisno Sumardjo, Sunindyo, dan Surono.

SIM lahir dari kesadaran kolektif seniman untuk memiliki wadah yang lebih dinamis dan revolusioner dalam mempertahankan kemerdekaan, melalui karya visual pada situasi revolusi pasca-proklamasi.

Anggota Seniman Indonesia Muda yang diketahui sebagai perupa karikatur dalam koleksi Museum Joang ’45 antara lain S. Sudjojono, Agus Djaya, Affandi, Trubus Sudarsono, Basuki Resobowo, Abdoelsalam, Wakidjan, Mochtar Apin, Sukondo, Otto Djajasuntara, serta beberapa seniman lainnya.

Para perupa yang terlibat memiliki latar dan kontribusi beragam dalam sejarah seni rupa Indonesia. S. Sudjojono misalnya, sudah dikenal luas sebagai tokoh penting dalam perkembangan seni lukis modern Indonesia, sementara Affandi dan Agus Djaya merupakan pelukis ternama sekaligus figur sentral dalam perkembangan seni rupa pada masa revolusi kemerdekaan.


Trubus Sudarsono dikenal sebagai seniman yang terampil dalam memahami karakter dan anatomi figur manusia. Basuki Resobowo merupakan seniman serba bisa yang juga menjadi salah satu pendiri Persatuan Ahli Gambar Indonesia (PERSAGI), sementara Otto Djajasuntara, adik dari pelukis Agus Djaya, dikenal sebagai pelukis bergaya ekspresionis.

Selain nama-nama tersebut, SIM juga menjadi inkubator bagi banyak seniman besar Indonesia lainnya. Sejumlah anggota yang tercatat aktif dalam kegiatan SIM, di antaranya Sudarso, Zaini, Suromo, dan Oesman Effendi.

Kontribusi SIM pada masa revolusi dapat dilihat sebagai “dapur” propaganda visual bagi Indonesia, melalui karya-karya yang diproduksi para anggotanya, dengan cara memproduksi poster-poster propaganda secara massal kemudian diedarkan dan ditempel ke ruang-ruang publik.

Para anggota SIM juga secara tidak langsung bertindak sebagai wartawan visual yang merekam peristiwa-peristiwa tidak terjangkau oleh kamera fotografer pada masa itu.

Kehadiran mereka juga berperan sebagai bentuk diplomasi budaya, dengan menampilkan Indonesia sebagai entitas kebudayaan yang berdaulat, intelek, dan modern di tengah situasi genting melalui karya-karya visual.

Koleksi karikatur lainnya akan dapat diakses melalui platform Jakarta Digital Collections (JDC) yang direncanakan akan diluncurkan pada 2026. JDC merupakan inisiatif SEAMS melalui program #KoleksiKita, bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta serta 12 museum dan galeri di bawah pengelolaannya.

Kegiatan ini bertujuan membuka akses publik terhadap koleksi museum melalui proses digitalisasi dan katalogisasi, dengan dukungan dari U.S. Ambassadors Fund for Cultural Preservation (AFCP) yang berkomitmen pada pelestarian bangunan bersejarah, situs arkeologi dan budaya, serta objek dan koleksi museum.

bottom of page