top of page

Workshop Katalogisasi: Dasar Akses Publik ke Koleksi Museum

5 Des 2025

#KoleksiKita bersama Dinas Kebudayaan DKI Jakarta melalui Jakarta Digital Collections (JDC) mengadakan workshop katalogisasi koleksi di Museum Tekstil sebagai bagian dari upaya memperkuat kapasitas museum dalam pendokumentasian dan pelestarian koleksi.

Workshop ini diikuti oleh sepuluh peserta dari Museum Tekstil dan Museum Wayang. Selama sesi berlangsung, peserta mempelajari cara mengisi formulir katalogisasi serta mempraktikkan alur lengkap pendokumentasian koleksi, mulai dari penanganan objek, observasi detail, hingga penyusunan informasi perjalanan koleksi.

Salah Satu Mahakarya Koleksi Museum Tekstil

Terdapat empat objek koleksi yang digunakan sebagai bahan praktik katalogisasi, salah satunya adalah Kain Panjang Batik Tulis Motif Sawunggaling karya Go Tik Swan (K.R.T. Hardjonagoro).

Go Tik Swan dikenal sebagai salah satu pelopor motif batik modern Indonesia. Ia merupakan maestro batik, penari Jawa, pemain gamelan, dan kurator, yang juga mempelajari sastra Jawa Kuno di Universitas Indonesia.

Penelusuran mendalam dari arsip sebagai bagian dari proses katalogisasi menunjukkan peran penting Go Tik Swan dalam koleksi batik Museum Tekstil. Beberapa batik yang menjadi bagian dari koleksi awal museum merupakan karyanya, sedangkan koleksi pribadinya disumbangkan ke museum pada tahun 2002.

Koleksi-koleksi batik sumbangan K.R.T. Hardjonagoro memiliki signifikansi budaya yang tinggi karena merepresentasikan persilangan estetik antara tradisi batik kraton Jawa dan kreativitas modern yang lahir dari proses pencarian identitas budaya Indonesia pasca-kemerdekaan.

Kain Panjang Batik Tulis Motif Sawunggaling yang digunakan sebagai bahan praktik workshop katalogisasi ini berasal dari Surakarta. Kain ini memadukan unsur ayam jantan (sawung) dan merak jantan (galing), yang menggambarkan dua sosok yang tengah beradu. Motif ini menyerupai burung Phoenix dalam mitologi Tiongkok, yang melambangkan kegagahan, ketegaran, dan keindahan.

Koleksi Bahan Praktik Katalogisasi

Selain Kain Panjang Batik Tulis Motif Sawunggaling, pada sesi praktik pengisian katalogisasi, beberapa koleksi lain yang digunakan sebagai bahan praktik selama workshop, antara lain:

- Wayang Kulit Rama Wijaya (Muda)
Wayang ini merupakan salah satu Wayang Kulit Betawi yang menggambarkan tokoh Rama, putra Raja Ayodya, Prabu Dasarata dari permaisuri Dewi Kausalya. Rama dikenal sebagai ksatria gagah, bijaksana, dan ahli memanah, sekaligus simbol keadilan, kebijaksanaan, serta kesetiaan karena keteguhannya menjaga dharma demi kebenaran dan kehormatan.

- Wayang Dewi Sinta
Wayang Kulit Betawi yang merepresentasikan karakter Dewi Sinta ini dipengaruhi tradisi wayang Jawa yang dibawa para pendatang, kemudian mengalami akulturasi dengan budaya Betawi. Dewi Sinta, adalah tokoh utama wanita yang terkenal karena kesetiaan, kesabaran, dan kebijaksanaannya. Ia adalah istri Rama, pangeran dari Ayodya. Cerita dalam wayang ini biasanya berasal dari Ramayana dan Mahabarata, yang dituturkan dalam bahasa Betawi, kemudian diselipkan unsur humor dengan iringan gamelan Betawi. Wayang Rama Wayang ini biasa dimainkan dalam acara-acara seperti hajatan dan sunatan.

- Kain Batik Motif Gajah Birowo, Alas-Alasan
Kain panjang ini menampilkan objek bunga serta ayam jantan (Sawunggaling) berwarna merah jambu dan kuning oker dengan tekstur titik-titik khas batik. Motif alas-alasan menggambarkan suasana hutan dengan simbol-simbol yang merepresentasikan kekuatan, kepemimpinan, kesuburan, dan regenerasi. Motif klasik ini dahulu digunakan oleh raja-raja dalam acara penting seperti upacara agung, prosesi pengantin, dan tarian Bedhaya.

Katalogisasi dan Digitalisasi 100 Koleksi Prioritas

Museum Tekstil saat ini menyimpan sekitar 1.900 koleksi, mencakup tekstil batik, tenun, tekstil campuran, hingga alat-alat produksi tekstil. Sementara Museum Wayang memiliki sekitar 6.863 koleksi, terdiri dari wayang, alat musik, alat pembuat wayang, boneka, topeng, dan lukisan.

Melihat jumlah koleksi yang sangat besar, SEAMS melalui #KoleksiKita bekerja sama dengan museum terkait akan memilih sekitar 100 objek prioritas yang memiliki nilai sejarah, estetika, atau signifikansi pelestarian tertinggi.

Melalui kegiatan ini, staf museum diharapkan semakin kuat dalam melakukan katalogisasi dan penelusuran provenans koleksi. Data-data yang dihasilkan akan tersedia ke publik melalui platform Jakarta Digital Collections.

Tim #KoleksiKita juga menerapkan standar katalogisasi internasional terbaik seperti Getty Vocabularies (AAT, TGN, ULAN) dan Library of Congress Subject Headings (LCSH) untuk meningkatkan kualitas dokumentasi, pelestarian, serta aksesibilitas koleksi.

Kegiatan ini terselenggara berkat dukungan U.S. Ambassadors Fund for Cultural Preservation (AFCP), yang berkomitmen mendukung pelestarian bangunan bersejarah, situs arkeologi, objek budaya, koleksi museum, serta ekspresi tradisional seperti bahasa dan musik di berbagai negara mitra.

bottom of page