
Pelatihan Katalogisasi #KoleksiKita Berlanjut di Museum Bahari
18 Feb 2026
Pelatihan katalogisasi #KoleksiKita untuk memperkuat kapasitas museum dalam pendokumentasian dan pelestarian koleksi kembali dilaksanakan di Museum Bahari pada Rabu, 18 Februari 2026.
Sebagai program yang berfokus pada penguatan dokumentasi dan digitalisasi koleksi museum, #KoleksiKita bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta berencana meluncurkan Jakarta Digital Collections (JDC) pada pertengahan tahun 2026.
Portal digital ini akan menjadi wadah akses publik terhadap koleksi museum secara daring. Oleh karena itu, pelatihan katalogisasi menjadi fondasi penting agar data yang disajikan tersusun secara akurat, terstruktur, dan sistematis.
Berlokasi di Aula Ir. Djuanda Museum Bahari, kegiatan ini diikuti oleh sepuluh peserta dari Museum Bahari dan Museum Onrust. Sesi dibuka dengan pengenalan program #KoleksiKita dan pemaparan tujuan kegiatan, kemudian dilanjutkan dengan pembahasan materi objek serta praktik katalogisasi dalam beberapa kelompok.
Museum Bahari menyimpan sekitar 800 objek koleksi, meliputi peralatan kapal tradisional, perahu tradisional asli, miniatur perahu dari Indonesia dan mancanegara, spesimen kehidupan laut, patung diorama, serta artefak sejarah seperti meriam, jangkar, mercusuar, dan teleskop.
Sementara Museum Onrust memiliki 354 objek koleksi yang mencakup keramik, fragmen arsitektural seperti bata, ubin lantai, serta sisa struktur bangunan yang berasal dari era kolonial VOC. Koleksinya juga meliputi artefak logam seperti kunci, paku, dan berbagai peralatan utilitas.
Selama sesi workshop, peserta mempelajari alur lengkap pendokumentasian koleksi, mulai dari penanganan objek, observasi detail visual dan material, hingga penyusunan riwayat perjalanan koleksi (provenance).
Mereka juga dilatih mengisi berbagai elemen penting dalam formulir katalogisasi, seperti foto objek, nomor identifikasi, kepemilikan koleksi, tipe objek, deskripsi fisik, metode produksi, material, kondisi, hingga dokumentasi pendukung lainnya.
Katalogisasi sendiri merupakan proses teknis penyusunan dan pendeskripsian koleksi secara sistematis agar dapat diidentifikasi, ditelusuri, dan diakses dengan mudah.
Proses ini mencakup klasifikasi, pengindeksan, serta penyusunan metadata koleksi untuk kepentingan dokumentasi dan pemanfaatan publik.
Tiga Koleksi Maritim Museum Bahari dalam Praktik Katalogisasi
Pelatihan ini tidak hanya membahas teori, tetapi juga melibatkan praktik langsung dengan objek koleksi pilihan. Tiga koleksi dipilih sebagai perwakilan, yaitu teropong panjang, kempis, dan sextant.
Teropong panjang merupakan perangkat navigasi berbahan logam berwarna emas kekuningan yang pada masanya digunakan pelaut untuk mengamati kondisi di depan dan sekitar kapal saat berlayar, termasuk objek-objek navigasi di kejauhan.
Kempis adalah alat tangkap ikan berbahan anyaman bambu yang digunakan sebagai perangkap ikan di perairan muara. Dibuat dengan teknik anyaman tradisional, alat ini mencerminkan pengetahuan lokal masyarakat pesisir dalam memanfaatkan material alami seperti rotan dan bambu.
Selain kempis, terdapat 23 objek alat tangkap ikan lainnya seperti serokan, jala, lukah, layangan pancing, tombak, dan keramba.
Sextant merupakan alat navigasi astronomi yang digunakan untuk mengukur sudut antara benda langit dan cakrawala. Instrumen ini lazim digunakan kapal-kapal besar saat berlayar melintasi samudra sebelum memasuki Pelabuhan Sunda Kelapa.
Sextant dalam koleksi ini diproduksi oleh H. Hughes & Son pada tahun 1920, dengan material logam dan penyangga kayu serta dilengkapi kaca pembesar untuk membaca derajat pengukuran.
Museum Bahari dulunya merupakan tempat perdagangan komoditas dalam jumlah besar, sehingga peralatan, dan perlengkapan navigasi sextant memainkan peran besar dalam memastikan kedatangan kapal kargo dengan selamat.
Ketiga koleksi di atas merepresentasikan ragam peralatan navigasi dan penangkapan ikan yang pernah digunakan secara luas di wilayah Nusantara, meskipun memiliki penyebutan yang berbeda di tiap daerah.
Sebanyak 70 objek terpilih yang terdiri dari miniatur kapal, alat penangkap ikan, alat pembuat kapal, dan lainnya akan mulai dikatalogisasi dan didigitalisasi oleh SEAMS melalui #KoleksiKita pada Februari hingga Maret 2026. Kegiatan serupa untuk Museum Onrust akan dimulai pada April 2026.
Melalui kegiatan ini, museum diharapkan semakin terampil dalam melakukan pencatatan dan penelusuran provenans koleksi. Data yang dihasilkan nantinya akan tersedia dan dapat diakses publik melalui platform Jakarta Digital Collections.
Tim #KoleksiKita juga menerapkan standar katalogisasi internasional seperti Getty Vocabularies (AAT, TGN, ULAN) dan Library of Congress Subject Headings (LCSH) guna meningkatkan kualitas dokumentasi, pelestarian, serta aksesibilitas koleksi.
Kegiatan ini terselenggara berkat dukungan U.S. Ambassadors Fund for Cultural Preservation (AFCP), yang berkomitmen mendukung pelestarian bangunan bersejarah, situs arkeologi, objek budaya, koleksi museum, serta ekspresi budaya tradisional seperti bahasa dan musik di berbagai negara mitra.