top of page

Masih Adakah Alat Penangkapan Ikan Tradisional di Jakarta?

8 Mei 2026

Kembali ke era 1950-an, pesisir utara Jakarta merupakan wilayah yang mayoritas masyarakatnya bermata pencaharian sebagai nelayan. Pada masa itu, mereka masih aktif menggunakan alat-alat penangkap ikan tradisional yang dibuat secara mandiri dan diwariskan secara turun-temurun di dalam keluarga.

Salah satu komunitas yang lekat dengan penggunaan alat penangkap ikan tradisional adalah masyarakat Kampung Tugu. Jejak penggunaan alat-alat tersebut masih dapat kita saksikan di Living Museum Roemah Toegoe, sebuah pusat pelestarian budaya dan edukasi sejarah masyarakat Mardijker Portugis yang berlokasi di dekat pesisir Jakarta Utara. Museum ini menyimpan beberapa koleksi alat penangkap ikan tradisional yang serupa dengan koleksi milik Museum Bahari.

Adapun alat-alat penangkapan ikan tradisional lainnya yang kini sudah langka tersimpan di Museum Bahari. Selain alat penangkap ikan, Museum Bahari juga menyimpan berbagai objek sejarah kelautan lainnya, seperti peralatan kapal tradisional, perahu asli, miniatur perahu dari dalam dan luar negeri, spesimen biota laut, diorama, serta artefak sejarah seperti meriam, jangkar, mercusuar, dan teleskop.

Di antara koleksi tersebut, terdapat sekitar 23 objek alat penangkapan ikan tradisional, seperti serokan, jala, lukah, layangan pancing, tombak, kepis, rawai, keramba, sero, bagan, tempirai, dan bubu. Alat-alat ini merepresentasikan praktik penangkapan ikan masyarakat pesisir Jakarta di masa lalu, dari skala rumah tangga hingga skala yang lebih besar untuk diperjualbelikan.

Sebagai museum bertema maritim, koleksi alat penangkap ikan dapat merepresentasikan praktik masyarakat pesisir Jakarta di masa lalu dengan kondisi alam yang asri dan bersih. Sayangnya kini, pesisir Jakarta banyak mengalami perubahan besar akibat industrialisasi, polusi, reklamasi, dan pembangunan. Perubahan ini tidak hanya memengaruhi kondisi ekosistem laut, pola sebaran ikan, serta cara nelayan dalam menjalankan aktivitas melautnya.

Kondisi pesisir Jakarta dulu vs Sekarang

Jakarta memiliki lanskap perairan yang luas dengan sekitar 110 pulau di Kepulauan Seribu dan garis pantai sepanjang kurang lebih 35 km. Sejak era kolonial, kawasan ini telah menghadapi sedimentasi dari sungai-sungai yang bermuara ke Teluk Jakarta.

Memasuki abad ke-20, kawasan Sunda Kelapa menjadi pusat perdagangan aktif, dengan aliran sungai yang masih lancar. Namun seiring waktu, sedimentasi, pembangunan besar-besaran, reklamasi, serta eksploitasi air tanah menyebabkan adanya perubahan drastis pada wilayah pesisir saat ini.

Pada 1970-an, sungai-sungai di Jakarta menjadi bagian sentral yang penting bagi kehidupan warga sekitar. Seiring waktu, sedimentasi jangka panjang serta pertumbuhan kawasan industri dan permukiman, membuat wilayah pesisir semakin padat dan resiko pencemaran yang semakin meningkat. Selain itu, penurunan muka tanah akibat pengambilan air tanah turut memperbesar risiko banjir rob.

Menurut laporan Greenpeace berjudul The Projected Economic Impact of Extreme Sea-Level Rise in Seven Asian Cities in 2030, sekitar 17% daratan Jakarta berpotensi berada di bawah permukaan air laut jika terjadi banjir besar pada 2030. Wilayah pesisir utara lantas menjadi area yang paling rentan, disebabkan oleh tingkat elevasinya yang rendah.

Dampak perubahan tersebut diperkuat dengan hasil konsultasi #KoleksiKita bersama masyarakat Kampung Tugu, Jakarta Utara. Dalam kesempatan tersebut, tim SEAMS melakukan wawancara dengan Arthur Michiels, pengurus Museum Roemah Toegoe serta Gerrard Stefanus Sepang, kerabat dari Arthur Michiels, pemberi hibah beberapa koleksi alat penangkap ikan di Museum Roemah Toegoe yang masih aktif melakukan aktivitas penangkapan ikan.

Gerrard Stefanus menjelaskan bahwa banyak alat tangkap tradisional kini tidak lagi digunakan, “Saya udah nggak pakai ini (menunjuk ke beberapa koleksi alat penangkapan tradisional Museum Bahari seperti Sero, Bagan, Kepis, dan Bubu). Sekarang saya pakai kayak jaring yakni waring” Ujar Gerrard Stefanus.

Menurutnya, masyarakat Kampung Tugu dulu tidak perlu melaut jauh karena ikan masih mudah ditemukan di sekitar pantai. Kawasan ini juga dikenal rimbun dengan pepohonan lebat, meski memiliki risiko kehadiran satwa liar seperti ular.

Gerrard juga mengaku bahwa kini ia hanya mencari ikan di sekitar perairan dangkal. Namun, berbeda dengan zaman dahulu, kondisi pesisir Jakarta saat ini membuatnya lebih sulit menangkap ikan.

“Tapi memang diakui ya kalau zaman-zaman tahun 1980 kita nggak susah cari ikan, karena masih banyak di muara itu (segala macam) ikan” ujar Gerrard,

Kini, ia harus menempuh jarak lebih jauh untuk menangkap ikan, bahkan hingga ke empang-empang di luar kawasan tempat tinggalnya di Kampung Tugu.

“Hanya sekarang nih karena udah kalinya kotor banyak bendungan-bendungan akhirnya ikannya udah nggak ada. Saya sekarang ngejala itu di empang di area Marunda” tutupnya.

Dahulu, perairan Kampung Tugu memungkinkan pertemuan ikan air tawar dan payau, seperti kakap putih. Kini, kondisi tersebut telah berubah akibat kerusakan lingkungan.

“Dulu ngejala di laut hasilnya macem-macem. Ada ikan lunduk yang bentuknya kayak ikan lele tapi kecil-kecil. Sekali tebar bisa dapat ribuan.” tambah Arthur Michiels.

Kampung Tugu dan Praktik Penangkapan Ikan

Masyarakat Kampung Tugu masih menggunakan beberapa alat tangkap yang serupa dengan koleksi di Museum Bahari Jakarta, seperti jala, bubu, dan kepis. Namun, penggunaannya kini lebih banyak untuk kebutuhan pribadi daripada tujuan komersial.

Secara historis, Kampung Tugu bukanlah kampung nelayan tradisional. tetapi, kedekatannya dengan pesisir membuat beberapa masyarakatnya bergantung pada sumber daya laut. Selain menangkap ikan, masyarakat Kampung Tugu juga melakukan aktivitas lain seperti berburu, membuat kerajinan kayu, dan berdagang.

Salah satu tokoh penting terkait koleksi ini adalah Opa Benang, yang diakui oleh masyarakat Kampung Tugu sebagai pencari ikan handal.
Masyarakat Tugu tidak mencari ikan hingga ke tengah laut, karena mereka cenderung lebih banyak menangkap ikan di sekitar pantai, dan sungai-sungai ketika kondisi perairan masih memungkinkan. Salah satu ikan yang diminati adalah bandeng, yang dijual dengan cara ditusuk.

Menurut mereka, metode penjualan tersebut merupakan bagian dari tradisi lokal Kampung Tugu, sekaligus menjadi cara menunjukkan ikan bandeng yang memiliki nilai jual tinggi.

“Ikan favorit itu Bandeng. Sementara ikan (favorit) liar (lainnya yang ditangkap ada jenis) ikan belanak, mujaer, dan nila karena bervitamin.” ujar Arthur & Gerrald.

Alat Penangkapan Ikan Tradisional Museum Bahari & Kampung Tugu
Koleksi alat penangkapan ikan tradisional milik Living Museum Roemah Toegoe dan Museum Bahari mencerminkan keterampilan nelayan Jakarta tempo dulu dalam memahami lingkungan mereka. Koleksi ini juga menunjukkan adanya pengaruh asimilasi budaya dari berbagai daerah di Nusantara.

- Peralatan Penangkapan Ikan: Alat penangkap ikan tradisional ini kini sudah sangat jarang digunakan di Jakarta. Cara kerjanya menyerupai perangkap dengan satu arah masuk, sehingga ikan dapat masuk ke dalam, tetapi sulit untuk keluar kembali. Setelah ikan masuk, mereka akan terperangkap di dalam struktur alat tersebut, sehingga memudahkan nelayan untuk mengumpulkannya.

- Bubu adalah alat perangkap ikan yang digunakan masyarakat Kampung Tugu di sungai maupun galangan dengan cara ditancapkan ke dasar perairan. Selain itu, terdapat jenis bubu unik yang dikenal sebagai “bubu joget” karena dipasang mengapung dan bergerak mengikuti arus, berbeda dengan bubu pada umumnya.

- Lukah merupakan alat penangkap ikan tradisional yang terbuat dari anyaman bambu berbentuk tabung. Salah satu sisinya dirancang mengerucut ke dalam sehingga jika dilihat dari atas akan tampak menyerupai bentuk hati. Sisi tabung yang melengkung ke dalam ini dilengkapi dengan celah kecil yang berfungsi untuk menjebak ikan sebagai jalan masuk.

- Jala merupakan satu-satunya alat tangkap tradisional yang masih aktif digunakan oleh masyarakat Kampung Tugu hingga hari ini. Jala digunakan dengan cara dilempar hingga membentang lebar di atas permukaan air, lalu akan tenggelam ke dasar berkat pemberat di ujungnya untuk menjerat ikan di bawahnya. Jala tradisional ini terbuat dari jalinan benang katun yang dirangkai melalui ikatan tali yang menjuntai rapi.

Kini, pesisir Jakarta telah mengalami perubahan besar yang membuat praktik penangkapan ikan menyesuaikan dengan kondisi setempat. Saat ini, banyak nelayan pesisir Jakarta yang lebih memilih menggunakan jala dan jaring karena fleksibilitasnya dalam menghadapi perubahan kondisi perairan.

Meskipun demikian, keberadaan koleksi alat penangkapan ikan tradisional ini menjadi bukti penting dari praktik penangkapan ikan ramah lingkungan yang telah diterapkan oleh masyarakat pesisir Jakarta sejak dahulu, baik untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari maupun diperjualbelikan.

Cerita di balik objek-objek Museum Bahari lainnya akan dapat diakses melalui portal Jakarta Digital Collections (Koleksi Jakarta) yang direncanakan diluncurkan pada pertengahan 2026.

Koleksi Jakarta merupakan inisiatif SEAMS melalui #KoleksiKita, bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta dan 12 museum di bawah pengelolaannya.

Kegiatan ini bertujuan membuka akses publik terhadap koleksi museum melalui digitalisasi dan katalogisasi, yang didukung oleh U.S. Ambassadors Fund for Cultural Preservation (AFCP), yang berkomitmen mendukung pelestarian warisan budaya di berbagai negara, termasuk bangunan bersejarah, situs arkeologi, koleksi museum, dan ekspresi budaya tradisional.

bottom of page